• West Java Kingdom


    Kerajaan di Barat Jawa
    Penelusuran Sejarah antara Legenda dan Fakta

  • West Java Kingdom

    Search of the History between Legend and Fact

  • West Java Kingdom

    Seni, Tradisi, Budaya, dan Wisata Sejarah

Posted by Nandira Semesta
No comments | 12:35 AM
WEST JAVA KINGDOM
Ada sedikit bukti otentik yang tak terbantahkan mengenai kebesaran seorang tokoh yang bergelar Sri Baduga Maharaja. Beliau membawa negerinya pada kemakmuran dan dicintai oleh rakyatnya. Sri Baduga Maharaja adalah gelar saat penobatan, sedangkan nama asli beliau yaitu Jayadewata dengan julukan Sang Pamanah Rasa.
Tidak kita jumpai satupun peninggalan sejarah yang benar-benar otentik yang menyebutkan bahwa tokoh tersebut menamai dirinya atau menyebut dirinya sebagai Prabu Siliwangi. Gelar yang melegenda tersebut hanya berkembang di masyarakat untuk menyebut jati diri sang raja. Hal itu bisa kita jumpai dalam karya-karya sastra dan beberapa cerita lisan yang berkembang turun temurun. Masyarakat Sunda saat itu mengenal istilah “pamali” atau tabu, mereka merasa tidak sampai hati menyebut nama langsung dari tokoh yang sangat mereka hormati. Akhirnya nama Prabu Siliwangi menjadi pilihan terbaik untuk menyebut identitas sang raja.

Siapakah Prabu Siliwangi?
Siliwangi berasal dari kata “Silih” yang berarti menggantikan dan “Wangi” yang merujuk kepada tokoh Prabu Wangi.  Jadi Siliwangi adalah yang menggantikan Prabu Wangi. Prabu Wangi adalah Maharaja Niskala Wastukancana, sehingga Siliwangi merupakan penerus dari raja tersebut.
Dari mulai Maharaja Niskala Wastukancana sampai keruntuhan kerajaan di tahun 1579, Kerajaan Sunda (yang di situs ini kemudian diteruskan dengan nama Kerajaan Pajajaran) terdapat 7 nama raja yang pernah berkuasa. Jadi sampai disini, ada 7 nama yang bisa jadi merupakan Prabu Siliwangi yang disebut dalam kisah-kisah.
Pengganti langsung dari Niskala Wastukancana adalah Dewa Niskala, namun dari beberapa kisah yang kami temui mengenai Prabu Siliwangi, biografi Dewa Niskala sama sekali berbeda dengan kisah-kisah tokoh Prabu Siliwangi. Yang sangat-sangat mendekati karakter Prabu Siliwangi justru Jayadewata yang merupakan penerus dari Dewa Niskala. Sehingga beberapa peneliti sejarah mengungkapkan bahwa istilah “pengganti” ini bukan “pengganti” dalam arti penerus langsung, tapi “pengganti” dalam artian memiliki ciri yang sama dengan objek yang digantikan. Seperti yang kita tahu bahwa Niskala Wastukancana dan Jayadewata adalah 2 tokoh yang membawa kerajaan mencapai puncak kejayaan dan dicintai rakyat Sunda.
Namun, di beberapa kisah pantun serta cerita lisan yang ada, raja-raja lain setelah Jayadewata pun memiliki karakter dan cerita yang sama dengan Prabu Siliwangi (meskipun secara kuantitas, kisahnya jauh lebih sedikit dibandingkan kemiripan kisah Prabu Siliwangi dengan Jayadewata).
Dari paparan diatas kami mengidentifikasikan bahwa ada 4 kemungkinan yang berkembang di masyarakat dalam kasus ini, yaitu:
  1. Tokoh Prabu Siliwangi hanyalah tokoh fiktif (asumsi ini sangat lemah, karena ada beberapa sumber historis meskipun sedikit tapi sudah cukup kuat membuktikan bahwa tokoh ini memang ditujukan kepada tokoh yang benar-benar pernah ada).
  2. Tokoh Prabu Siliwangi memang khusus ditujukan untuk tokoh Prabu Jayadewata.
  3. Tokoh Prabu Siliwangi ditujukan untuk raja-raja yang dimulai dari Prabu Jayadewata sampai yang terakhir (dalam hal ini, ada 6 orang raja yang digelari sebagai Prabu Siliwangi).
  4. Ada pencampuran kisah antara Prabu Jayadewata dan raja-raja sesudahnya menjadi satu tokoh yaitu Prabu Siliwangi. 
Kemungkinan terakhir itulah yang sebenarnya banyak berkembang di masyarakat kita sekarang ini. Maksud dari pencampuran kisah tadi, bisa karena keperluan karya sastra (yang ini masih bisa kami tolerir) dan bisa juga dikarenakan mereka yang mencampur adukan sejarah tadi, memang tidak mengetahui sepenuhnya mengenai Sejarah Kerajaan Sunda/Pajajaran.

Pembengkokan Fakta Prabu Siliwangi
Merupakan suatu fitrah, ketika manusia memerlukan suatu tokoh yang dijadikan panutan. Apalagi hampir beberapa dekade ini kita seolah tidak menemukan sosok yang pantas dijadikan tuntunan atau diidolakan (diluar konteks keagamaan). Maka ketika kita menemukan suatu cerita, sekalipun cerita itu tidak jelas asal usulnya,mengenai seorang tokoh besar nan hebat (apalagi tokoh tersebut berasal dari suku kita sendiri), kita langsung menelan bulat-bulat kisah tadi. Begitu pun dengan kisah-kisah mengenai Prabu Siliwangi, sebagian dari kita seolah-olah menemukan sosok idola. Bahkan menjadi pengkultusan yang mungkin terlalu berlebihan.
Minimnya sumber dan peninggalan sejarah mengenai tokoh tersebut kerap kali menjadi objek sasaran para pegiat klenik. Mereka mendompleng kebesaran dan kehebatan tokoh Prabu Siliwangi untuk kepentingan mereka.
Atau sering juga kita saksikan di layar kaca mengenai tayangan reality show yang menampilkan orang-orang yang katanya kerasukan. Lucunya, orang yang “kerasukan” tadi menyebut dirinya sebagai Prabu Siliwangi. Lelucon macam apa ini? Silahkan telaah lagi paparan kami diatas, bahwa tidak ada satupun raja Sunda/Pajajaran yang menyebut dirinya sebagai Prabu Siliwangi. Dari satu kalimat itu saja sudah cukup menilai bahwa orang “kerasukan” tadi adalah orang yang sama sekali tidak mengenal  realita sejarah. Atau jika memang benar ada jin yang merasuki ke diri orang tersebut, maka kami simpulkan bahwa jin tersebut tidak cukup pintar untuk mengelabui kami. Jangan tertipu!
Kisah-kisah lain yang lumayan sudah mendarah daging adalah kisah mengenai menghilangnya Prabu Siliwangi, memindahkan kerajaan ke dimensi lain, pertikaian dengan sang anak (Kian Santang) yang berbuntut dengan Prabu Siliwangi dikejar-kejar oleh anaknya itu, dan masih banyak rumor lain yang berkembang, yang seharusnya kita sebagai manusia yang dianugerahi nalar perlu menelaah terlebih dahulu kisah-kisah tadi, sebelum kita menganggap bahwa kisah-kisah tersebut adalah fakta sejarah.
Kisah penting lainnya mengenai Prabu Siliwangi adalah cerita yang mulai tersiar luas bahwa Prabu Siliwangi sebenarnya memeluk agama Islam. Secara bukti historis (yang otentik) kami pastikan tidak ada mengenai hal itu. Maaf, ini bukan perkara sentimen agama. Kami muslim, kami mencintai dan menghormati Prabu Siliwangi, tapi untuk kisah-kisah yang dipaksakan jelas-jelas kami tolak. Tanpa kisah itu, Islam sudah cukup besar dengan segala kebesarannya, Prabu Siliwangi sudah cukup hebat dengan segala sepak terjangnya. bagi kami itu sudah cukup, tidak perlu ada penggabungan kisah yang kesannya dipaksakan.
Mengenai Prabu Siliwangi beragama Islam, bukan berarti kami menutup mata dan telinga, namun sejauh ini kami tidak berpegang pada pemikiran saudara kita yang memiliki keyakinan seperti itu, hanya saja memang kami belum menemukan sumber otentik. Silahkan beri kami data yang lebih valid, tidak menutup kemungkinan suatu saat kami mengamini hal tersebut.
Akhir kata, Prabu Siliwangi adalah sosok  yang hebat, gambaran pemimpin yang ideal, patut kita hormati apalagi beliau termasuk salah satu leluhur kita. Namun perlu kita ingat, Prabu Siliwangi adalah manusia seperti kita juga, kadang berbuat salah, yang juga memiliki keterbatasan. Yang baik perlu kita tiru, yang salah dari beliau tidak perlu kita benarkan dengan cara mengarang-ngarang cerita agar beliau menjadi sosok yang sempurna. (WJK News)

Posted by Nandira Semesta
No comments | 11:26 PM
WEST JAVA KINGDOM
Sering kita jumpai, orang-orang yang berada di Jawa Barat dalam kesehariannya menggunakan bahasa Indonesia baik di lingkungan umum maupun rumah. Alasan mereka tidak menggunakan bahasa Sunda karena takut salah, sebenarnya mereka bisa menggunakan atau hanya mengerti bahasa Sunda, hanya kebanyakan dari mereka tidak mengetahui undak usuk (tingkatan) dalam berbahasa.
Atau apabila kita kebetulan mendengar percakapan dari suku Baduy, maka yang ada di benak kita adalah mereka menggunakan bahasa Sunda yang terdengar kasar, bahkan mungkin ada sebagian dari kita yang mengatakan bahwa suku Baduy tidak mengenal sopan santun (dari perspektif bahasa).
Bahasa Sunda yang kita kenal sekarang memang memiliki tingkatan bahasa, berbicara kepada orang-orang yang lebih tua atau yang kita hormati berbeda dengan bahasa yang kita ucapkan pada teman sebaya. Kini bahasa Sunda mengenal tingkatan seperti bahasa halus sekali, halus, sedang, kasar, dan kasar sekali.

Asal Muasal Tingkatan Bahasa Sunda

Yang akan kami bahas sekarang adalah asal muasal tingkatan dalam bahasa Sunda sehingga menjadi sebuah bahasa yang kita kenal sekarang. Tingkatan dalam bahasa Sunda baru, muncul sekitar abad ke-17-18 M. Sementara bahasa Sunda periode-periode sebelumnya, sama sekali tidak memiliki tingkatan bahasa. Baik itu raja, lingkungan keraton, sampai ke rakyat biasa, mereka menggunakan bahasa yang sama. Percakapan antara atasan-bawahan dan juga sebaliknya  tetap menggunakan bahasa yang sama tanpa ada istilah apakah itu sopan atau tidak sopan.

Sekalipun di zaman kerajaan-kerajaan barat Jawa mengenal penggolongan kasta, namun dalam urusan berbahasa mereka lebih demokratis, ada kesejajaran harkat derajat dalam urusan berbahasa.
Lalu apa yang melatar belakangi pergeseran bahasa atau lebih tepatnya terjadi revolusi dalam bahasa Sunda? Jawaban paling tepat dikarenakan adanya pengaruh dari budaya luar yang datang ke bumi Parahyangan. Itu terjadi ketika Pajajaran runtuh di abad ke 16 oleh serangan Kesultanan Banten.Sejak saat itu kekuasaan beralih kepada Banten dan Cirebon.

Seperti yang kita tahu, Banten dan Cirebon saat itu memiliki kedekatan dengan Mataram, bahkan pada perkembangan berikutnya (abad 17-18) justru Mataram yang lebih dominan memiliki peranan di Barat Jawa. Karena pengaruh Mataram dalam bidang politik di tanah Sunda itulah, kemudian bahasa Sunda pun menjadi terpengaruh oleh bahasa Jawa (bahasa resmi dari Mataram). Kecuali suku Baduy, mereka adalah suku “asli” Sunda yang mengasingkan diri setelah era Pajajaran tamat, mereka hingga kini setia menggunakan bahasa asli leluhur Sunda.

Di hampir sebagaian besar daerah di barat Jawa saat itu, Bahasa Jawa menjadi bahasa wajib/pengantar antara keraton Mataram (sebagai pusat) dengan pemimpin-pemimpin wilayah kekuasaanmereka di Barat Jawa. Karena itu, bahasa Jawa dianggap sebagai bahasa kaum bangsawanyang memiliki gengsi tersendiri. Tidak hanya digunakan oleh pemimpin daerah dan pusat, tapi juga harus dipelajari oleh lapisan bawah.

Perlu diketahui mengenai politik saat itu, derajat penguasa dan rakyat biasa, tidak sama seperti yang terjadi sekarang (pemimpin dan rakyat), tapi lebih cenderung seperti layaknya Penjajah dan yang dijajah. Penguasa masa lalu sangat memiliki kekuasaan yang absolut. Sehingga segala kebiasaan yang dilakukan penguasa (kebudayaan dari tempat penguasa berasal) harus diterapkan juga di masyarakat terbawah sebagai “masyarakat terjajah”. Bahkan terkadang justru “masyarakat terjajah” yang dengan rela hati mengikuti budaya penjajah.

Penguasa di wilayah jajahan, hampir dipastikan selalu memiliki karakter untuk mendominasi, serta harus menunjukkan bahwa ia memiliki derajat yang lebih tinggi dihadapan rakyat jelata. Bahasa yang memiliki peranan penting dalam menyampaikan sebuah pesan atau maksud dijadikan alat untuk mengukuhkan eksistensi mereka di wilayah kekuasaan.

Karakteristik bahasa Jawa yang sudah terlebih dahulu menggunakan tingkatan bahasa, membuat masyarakat Sunda ikut terbiasa dengan hal tersebut. Dari situ muncul “bahasa baru” yaitu bahasa Sunda yang tersekat-sekat. Bahasa Sunda lama pun kian hari kian pudar, yang ada sekarang tinggal bahasa warisan dari Mataram, yang kemudian “dilestarikan” oleh Pemerintah kolonial Belanda. Sementara bahasa Sunda lama, yang tersisa hanya beberapa kosa kata saja, itupun kebanyakan berada di tingkatan bahasa kasar. (WJK News)

siya = kamu
kawula = saya
beja = berita
titah= perintah

Posted by Nandira Semesta
No comments | 1:26 AM
WEST JAVA KINGDOM
Bagi para pecinta sejarah Sunda yang sedang mengunjungi Bogor,  tidak ada salahnya untuk mengunjungi sebuah daerah di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari. Dari pusat kota Bogor lokasi ini bisa kita tempuh sekitar  10 menit dengan menggunakan kendaraan. Daerah yang kini dijadikan kampung budaya tersebut bernama Sindang Barang.

 
Riwayat Kerajaan Sindang Barang

Sindang Barang diperkirakan sudah ada sejak jaman Kerajaan Sunda. Ketika pusat kerajaan Sunda berada di Pakuan (pada periode abad ke 12) sampai jaman Kerajaan Pajajaran yang selalu menetap di Pakuan,Sindang Barang menjadi kerajaan kecil yang memiliki garis kekerabatan dengan kerajaan pusat. Ditambah lagi jarak yang sangat dekat (secara geografis) dengan ibukota Pakuan, membuat Sindang Barang memiliki peranan penting bagi Kerajaan Pajajaran.

Raja dari kerajaan Sindang Barang yang paling terkenal adalah Surabima Panjiwirajaya atau juga dikenal dengan nama Amuk Murugul, seorang  raja yang masa mudanya dikenal sebagai ksatria pemberani dan memiliki ilmu bela diri yang mumpuni.

Sebagai kerajaan bawahan yang loyal, Sindang Barang yang beribukota Kuta Barang ini dijadikan “kawah candradimuka” atau pusat pelatihan dari para ksatria Pajajaran.  Selain itu, di kerajaan kecil ini, Pajajaran memiliki aset berupa sebuah keraton. Keraton ini kerap ditempati oleh Permaisuri Prabu Jayadewata (Prabu Siliwangi) yang bernama Kentring Manik Mayang Sunda. Tidak heran apabila Prabu Surawisesa (raja Pajajaran berikutnya yang merupakan putra Prabu Jayadewata dari permaisuri Kentring Manik Mayang Sunda) lahir dan besar di kerajaan ini.

Sisa Peninggalan Kerajaan

Wisata Sejarah Kampung Sindang Barang memberikan angin segar diantara minimnya peninggalan kerajaan di barat Jawa. Kampung ini meskipun mungkin sudah tidak sesuai 100% dari aslinya, namun Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Pemkab Bogor dibantu oleh para ahli sejarah, mencoba untuk menjaga peninggalan-peninggalan asli seperti  Taman Sri Bagenda, puluhan Punden Berundak, serta ditunjang oleh bangunan baru yang dibuat berdasarkan riset sehingga kampung ini tetap memiliki nilai historis yang tinggi.

Suasana alam yang dipelihara kealamiannya ini, mempertahankan hamparan sawah dan sungai serta ditambah rumah tradisional Sunda lengkap dengan hawu dan suasana klasik penduduk desa yang menumbuk padi. Begitu pula dengan kesenian yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kampung budaya ini, termasuk upacara adat seperti Seren Taun setiap musim panen tiba.

Tak perlu khawatir jika anda berkunjung tidak menemukan informasi yang cukup mengenai sejarah, karena disana anda dengan mudah menemui beberapa tetua kampung (kokolot) yang dengan ramah bercerita mengenai sejarah Sindang Barang bahkan Pajajaran. (WJK News)

Posted by Republik Anggalarang
2 comments | 12:36 AM
 Update: 8 April 2014 - West Java Kingdom)
West Java KingdomAdeg = berdiri
Aja = jangan
Alah = kalah
Alit = halus
Asampe = menghina
Asing = hendaknya, sebaiknya
Atuha = tua
Ayama = semoga
Badak = badak
Bakti = berbakti
Bale = rumah
Bancana = bencana
Bangkong = kodok, katak
Bar = me-
Barang = sembarang, sembarangan
Barat = barat
Basa = ketika
Beuteung =  perut
Bijil = datang
Buana = dunia
Cara = dalam
Cereng = bersenang-senang
Ciung = burung ciung
Cokot = ambil
Combong = lubang pada gagang senjata kujang
Congo = bagian ujung senjata kujang untuk mengorek atau mencungkil
Darat = darat
Dasa = sepuluh
Dayeuh = ibukota
De = oleh
Dek = mau, ingin
Desa = negeri
Desa = wilayah, negara
Dina = di
Disri = ahli obat-obatan
Dora = mendatangkan
Dosa = kesalahan, dosa
Eluk = lekukan-lekukan pada bagian senjata kujang gunanya untuk mencabik-cabik perut musuh
Estri = wanita
Ganal = kasar
Ganja = nama khas gagang senjata kujang
Gawe = bekerja, berbuat
Hengan = tapi, namun
Heubeul = lama
Huma = ladang
Hyang = Dewa / penguasa alam
Indria = bagian tubuh
Ing = di
Inya = sungguh
Iseus-iseuskeun = camkan, harus diingat
Jaga = bila
Jati = menjalankan, melaksanakan
Jaya = menang, berjaya
Juritan = berperang
Kadatuan = keraton
Kalesa = bencana
Kambang = terapung
-kan = kan
Kapahayu = terjaga, terpelihara
Kawula = saya
Kawuri = generasi muda, generasi selanjutnya
Kenana = karena
Keputren = tempat istri raja
Kesatrian = asrama prajurit
Keudeu = harus, Pakeudeu-keudeu = saling bersikeras
Keudeu di tineung di maneh = egois
Kita = kita
Kowak = nama khas sarung senjata  kujang
Kreta = kebaikan, kejayaan
Kretayuga = zaman keemasan
Ku = oleh

Kudi = sakti, jimat
Kuliling = keliling
Lamaniya = menuruti, mengikuti
Lamun = bila, kalau
Lamunna = bila, kalau
Larangan = terlarang
Laut = laut
Leungeun = tangan
Loba = serakah
Lumekas = terlalu
Lunas = dasar
Ma = sebuah akhiran yang menegaskan kata sebelumnya
Madumdum = suka, gemar, senang
Mahayuna = memperindah
Maneh = kamu, dirinya
Mangadeg = bertahta, berdiri
Manggirang = hawa nafsu
Marga = jalan, menjalani, menempuh
Marigi = membentengi
Mata = mata
Mati = mati, meninggal
Mati-mati = dibunuh
Mulah = jangan
Mulia = mulia
Musuh = musuh
Na = dalam
-na = -nya
Naga= naga
Najur = menyejahterakan
Naraka = neraka
Nata = raja
Nga- = me-, menjadi, menjadikan, menjalankan
Ngambang = mengambang
Ngawakan = mengajarkan, melaksanakan
Nihan = inilah
Ning = dari
Nu = yang
Nya = ya
Nyacar = membuka lahan dengan cara menebang pohon atau semak-semak
Nyieun = membuat
Pabwang = menghalangi, saling menghalangi
Pagelaran = pertunjukan
Pakena = pekerjaannya, kebiasaannya
Pakeun = agar, biar
Paksa = maksud
Paksi = bagian ekor senjata kujang yang lancip
Pamor / sulangkar / tutul = garis-garis atau bintik-bintik pada badan senjata kujang
Panca = lima
Pandeuri = datang
Pandita = pemimpin agama, kaum agama
Panggerek = pemburu
Paompo = ucapan
Papa = nista, kenistaan
Papatuk = bagian ujung senjata kujang untuk mengorek atau mencungkil
Parisuda = penawar, solusi
Pasalahan = berselisih
Persada = keraton
Polah = kelakuan, tingkah
Pon = tindakan
Prang = perang
Precinta = susah, kesulitan, kesusahan
Prege = perasaan
Pulih = pulih
Pura = kota
Purbajati = menjalankan, melaksanakan
Purbatiti = menjalani
Purih = tingkah laku
Rahayu = kebajikan
Raja = pemimpin negara
Rama = pemimpin masyarakat
Rampas = rampas
Rampes = rukun, sempurna, bagus
Resi = pemimpin agama, petugas hukum
Reya = banyak
Ri = di
Ring = kepada
Sakakala = tanda peringatan
Sakala = seluruh
Sakuliling = sekeliling, sekitar
Salumah = meninggal
Sang = seorang-/ gelar yang melekat pada seseorang
Sangke = selalu, terus-menerus
Sasana = mengajarkan, melaksanakan
Selut = ring pada  pada ujung atas gagang senjata kujang
Siih = lekukan-lekukan pada bagian senjata kujang gunanya untuk mencabik-cabik perut musuh
Silih = saling, menggantikan
Sinengguh = pastinya, pastilah
Siya = kamu
Sunda = suci, murni
Suniya = pertapa
Tadah = lengkungan
Tan = tidak, tidak akan
Tandang = bijaksana
Tanjeur = tangguh, selalu unggul
Tanpa = tanpa
Tapak = jejak, peninggalan
Tarahan = pedagang / pelayar / kaum ekonom
Ti = dari
Timur = timur
Tinut = ikut, dituruti
Titah = perintah
Titi = menjalani
Tonggong = punggung
Turutan  = Ikuti
Utama = utama, keutamaan
Wangi = harum
Waruga = badan senjata kujang
Wiku = ulama, cendekiawan
Wong = orang, rakyat umum
Wong atuha = orang tua
Wyaghra = harimau
Yuga = zaman
Ywa = dan

kembali ke atas