• West Java Kingdom


    Kerajaan di Barat Jawa
    Penelusuran Sejarah antara Legenda dan Fakta

  • West Java Kingdom

    Search of the History between Legend and Fact

  • West Java Kingdom

    Seni, Tradisi, Budaya, dan Wisata Sejarah

Posted by Republik Anggalarang
3 comments | 9:19 AM
Pada suatu hari, Prabu Siliwangi dikunjungi oleh anaknya yang telah menjadi seorang muslim. Anak tersebut bernama Kiansantang (Rajasengara). Kedatangan anaknya itu tak lain untuk meminta sang ayah masuk agama Islam. Tetapi Prabu Siliwangi tak mau memenuhi himbauan anaknya itu, kemudian sang Prabu  berkata :
Aku memberi kebebasan bagi siapa pun untuk memilih agama. Yang aku cemaskan adalah keserakahan orang. Setelah memilih yang satu, lantas ganti lagi memilih yang baru, begitu seterusnya. Sementara bagi seorang raja, keyakinan itu sebuah kehormatan dan tak bisa sesepele itu digonta-ganti  seperti  orang  membalikkan  telapak  tangan.” 

Karena ayahnya begitu bersikukuh pada keyakinannya, maka akhirnya dengan terpaksa Kiansantang menantang ayahnya itu untuk bertarung. Dengan syarat yang kalah dalam pertarungan itu harus menuruti segala permintaan si pemenang. Tanpa diduga, Prabu Siliwangi yang selama ini dikenal sebagai petarung yang hebat dan pemberani, ternyata tidak mau meladeni tantangan itu. Beliau lebih memilih untuk melarikan diri daripada harus bertarung dengan darah dagingnya sendiri. Pelariannya ini diiringi oleh beberapa pengikutnya yang setia. Kiansantang yang begitu gigih menginginkan ayahnya agar masuk Islam akhirnya mengejarnya.

Setiap Prabu Siliwangi akan terkejar, Sang Prabu menjejak bumi dan tubuhnya melesak ke dalam tanah, dan akhirnya bekasnya menjadi lubang mata air yang tak pernah surut airnya. (konon mata air yang diyakini beberapa masyarakat Sunda merupakan peninggalan tersebut, hingga sekarang masih dapat disaksikan di Cikancung, Cicalengka / Cigegejlig dan wilayah Majalaya).  

Prabu Siliwangi terus melarikan diri menuju arah timur Pakuan, melewati jalur selatan Sukabumi, Cianjur dan berakhir di Leuweung Sancang (Garut Selatan). Karena terus dikejar dan diburu akhirnya Prabu Siliwangi memutuskan untuk menghentikan pelariannya itu di Sancang. 

Begitu sampai disana, ayah dan anak yang saling bersikeras akan keyakinannya ini kembali berhadap-hadapan. Kemudian Prabu Siliwangi mengambil ranting kayu Kaboa (di Indonesia, jenis pohon ini hanya tumbuh di Leuweung Sancang). Sambil memegang ujung ranting kaboa tersebut, Prabu Siliwangi berkata :
“dua ujung ranting kayu kaboa ini tidak akan pernah bisa bertemu sampai kapanpun, itulah simbol terhadap keyakinan kita yang juga tidak akan pernah bisa disatukan …….. anakku, coba kau pegang ujung kayu kaboa disebelahmu, dan aku akan pegang ujung yang satunya”
 
Meskipun Kiansantang tak mengerti maksud dari ayahnya ini, dia tetap mencoba untuk mengikuti apa yang diperintahkan oleh ayahnya itu. Setelah Kiansantang memegang ujung dari ranting itu tiba-tiba wujud dari Prabu Siliwangi yang merupakan ayahnya itu menghilang seketika. Begitu juga dengan pengikut Prabu Siliwangi  yang setia, ikut menghilang seiring dengan sang Prabu menghilang. 

Sesudah Prabu Siliwangi menghilang, konon di Hutan Sancang tiba-tiba muncul harimau putih (maung lodaya) yang menurut penduduk setempat diyakini sebagai penjelmaan dari Prabu Siliwangi. Harimau Putih itu menghuni Gua Garogol di tengah Hutan Sancang. Beberapa nelayan disana, saat ini masih sering melihat harimau putih itu saat senja hari sedang berada di puncak Karang Gajah (karang tinggi besar di pantai curam penuh gelombang di sebelah timur muara sungai Cipangisikan). Sedangkan para pengikut Prabu Siliwangi  diyakini menjelma menjadi harimau belang memanjang (Maung Sancang) dan bersemayam di kayu pohon kaboa.

3 comments:

  1. Sebgai seorang raja yang bijaksana, Jayadewata sudah pasti tidak akan mau melayani kesombongan anaknya. Bila ia kalah, maka anak2 akan mengatur orang tuanya di tanah Sunda. Aib untuk seorang ayah bila meneruskan tantangan. Beliau dengan bijak mendorong untuk multi agama di tanah sunda, karena beliau sendiri memberi contoh ketika agama hindu dan budha bisa berjalan secara damai tanpa adanya sikap sok hebat dari seorang anak. Terbukti Kian Santang bukanlah raja yang menjadikan tanah Padjadjaran menjadi hebat. Terbuktilah kearifan Prabu Siliwangi dalam menjaga tatakrama Sunda dari Kekurang ajaran anak yang merasa pintar dengan aliran barunya. Sekarang iniTanah Sunda dilanda arus globalisasi, apakah para ayah dan tetua orang sunda juga kan berkelahi karena anaknya memaksakan globalisasi kepada orang tuanya, sedangkan orang tuanya sudah terbukti berhasil mencerdaskan anaknya.

    ReplyDelete
  2. Seorang kian santang mustahil kurang ajar pada ayahandanya..dan memaksakan agama yg mengajarkan bhw tiada paksaan dlm agama Kurasa ada sesuatu yg aneh dicerita itu. Sejarah adalah buatan pemenang perang.. Ada udang dibalik rempeyek di kisah itu. Tuk menjelekkan sosok2 dalam kisah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju kang, karena itu ini kami masukan dalam tab legenda.. :)

      Delete

kembali ke atas