• West Java Kingdom


    Kerajaan di Barat Jawa
    Penelusuran Sejarah antara Legenda dan Fakta

  • West Java Kingdom

    Search of the History between Legend and Fact

  • West Java Kingdom

    Seni, Tradisi, Budaya, dan Wisata Sejarah

Posted by Republik Anggalarang
11 comments | 4:05 PM
Kerajaan ini merupakan penerus “resmi”  dari Kerajaan Sunda, dengan lambang kerajaannya yaitu Harimau Putih.
Menurut laporan perjalanan Tome Pires (1513), masyarakat sehari-harinya menyebut ibukota kerajaan ini dengan sebutan “dayo” (dayeuh) seperti yang ia dengar dari masyarakat di Sunda Kalapa. Sedangkan dalam hal-hal yang bersifat resmi dan kesusastraan biasanya ibukota ini disebut dengan nama Pakuan. Arti dari Pakuan Pajajaran itu sendiri bisa diartikan dalam berbagai versi, seperti menurut pendapat para ahli berikut ini  yang dikutip dari Saleh Danasasmita (1983) dalam bukunya Sejarah Bogor (Bagian I):

Menurut Naskah Sunda Kuno Carita Waruga Guru (1750-an) :
      Di lokasi kerajaan banyak terdapat banyak pohon Pakujajar.

Menurut  K.F. Holle (1869) dalam "De Batoe Toelis te Buitenzorg" :
Di dekat Kota Bogor terdapat kampung bernama Cipaku (beserta sungai yang memeiliki nama yang sama). Di sana banyak ditemukan pohon Paku. Jadi nama Pakuan ada kaitannya dengan kehadiran Cipaku dan Pohon Paku. Pakuan Pajajaran berarti pohon paku yang berjajar ("op rijen staande pakoe bomen").

Menurut G.P. Rouffaer, dalam "Encyclopedie van Niederlandsch Indie" edisi Stibbe tahun 1919 :
Pakuan mengandung pengertian "Paku", akan tetapi harus diartikan "paku jagat" ("spijker der wereld") yang melambangkan pribadi raja. "Pakuan" menurut Rouffaer setara dengan "Maharaja". Kata "Pajajaran" diartikan sebagai "berdiri sejajar" atau "imbangan" ("evenknie"). Yang dimaksudkan Rouffaer adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit. Sekalipun Rouffaer tidak merangkumkan arti Pakuan Pajajaran, namun dari uraiannya dapat disimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran menurut pendapatnya berarti "Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan (Maharaja) Majapahit”

Menurut R. Ng. Poerbatjaraka (1921) dalam "De Batoe-Toelis bij Buitenzorg" (Batutulis dekat Bogor) :
Kata "Pakuan" mestinya berasal dari bahasa Jawa kuno "pakwwan" yang kemudian dieja "pakwan" (satu "w", ini tertulis pada Prasasti Batutulis). Dalam lidah orang Sunda kata itu akan diucapkan "pakuan". Kata "pakwan" berarti kemah atau istana. Jadi, Pakuan Pajajaran berarti "istana yang berjajar ("aanrijen staande hoven").

Menurut H. Ten Dam (1957) dalam "Verkenningen Rondom Pajajaran" (Pengenalan sekitar Pajajaran) :
Pengertian "Pakuan" ada hubungannya dengan "lingga" (tonggak) batu yang terpancang di sebelah prasasti Batutulis sebagai tanda kekuasaan. Ia berpendapat bahwa "pakuan" bukanlah nama, melainkan kata benda umum yang berarti ibukota ("hoffstad") yang harus dibedakan dari keraton. Kata "pajajaran" ditinjaunya berdasarkan keadaan topografi. Ditarik kesimpulan bahwa nama "Pajajaran" muncul karena untuk beberapa kilometer Ciliwung dan Cisadane mengalir sejajar. Jadi, Pakuan Pajajaran adalah Pakuan di Pajajaran atau "Dayeuh Pajajaran".

Menurut Naskah "Carita Parahiyangan" :
Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata
“Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata”.

Lokasi pusat dari Pajajaran terletak antara Sungai Besar dengan Sungai Tangerang (disebut juga Ciliwung dan Cisadane) yang sejajar. Lokasi Pakuan merupakan lahan dataran tinggi yang satu sisinya terbuka menghadap ke arah Gunung Pangrango. Tebing Ciliwung, Cisadane dan Cipaku merupakan pelindung alamiah.
Penggambaran kebesaran Kerajaan Pajajaran itu terlihat dari laporan perjalanan Abraham Van Reibeeck (tentara kompeni yang melakukan ekspedisi ke reruntuhan Istana Pakuan). Dia melintasi sebuah anak sungai yang arusnya tenang mengalir ke Cisadane, lalu melewati parit dalam, setengah jam perjalanan dari sungai tadi, mencapai tanggul atau jalan sempit mendaki dari dataran atas Pakuan. Pada kedua tepinya diapit oleh parit yang dalam dan mengerikan, dan dari benteng yang tinggi, di sanalah pernah berada Istana Pakuan.
Diperkirakan ada 5 bangunan keraton (panca persada).  yang terdapat di ibukota kerajaan ini, masing-masing bernama: Sri Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati. Suradipati merupakan  keraton induk dari keraton-keraton tersebut. Keraton tersebut dikelilingi 330 pilar yang tingginya kira-kira 9 meter dengan ukiran indah di puncaknya.
Nama-nama keraton besar lainnya yang terdapat di luar kota Pakuan tetapi masih merupakan wilayah kekuasaan dari Pajajaran adalah Surawisesa (Kawali), Surasowan (Banten) dan Surakarta (Jayakarta / sebutan untuk Jakarta pada masa silam). Keraton-keraton yang berada di luar Pakuan, diserahkan pengurusannya pada kerajaan daerah di wilayah itu.
Kota Pakuan (sekarang bernama Bogor) dulu berpenghuni sekitar 48.271 jiwa, untuk jamannya merupakan kota terbesar kedua di Nusantara setelah Demak (berpenduduk 49.197 jiwa), dan masih dua kali lipat lebih banyak dari penduduk Pasai (23.121 jiwa) yang merupakan kota terbesar ketiga.
Tome Pires dari Portugis mencatat (saat berkunjung ke Pakuan), bahwa Kerajaan (Sunda) Pajajaran adalah negeri kesatria dan pahlawan laut. Sebutan tersebut dikarenakan para pelaut dari kerajaan Pajajaran telah mampu berlayar ke berbagai negara, sampai ke kepulauan Maladewa. Selain itu, Tome Pires juga menyimpulkan tentang prilaku orang Pajajaran di saat itu adalah menarik, kekar-tinggi, dan jujur. Beliau juga mengatakan di Ibu kota (Pakuan) tersusun rapi rumah-rumah yang indah terbuat dari kayu dan palem. Rumah disana biasanya berukuran besar.
Masa itu struktur arsitektural kampung sudah baku, unsur-unsur terpenting kampung adalah rumah adat (bumi ageung), rumah keluarga, bangunan penyimpanan dan pengolahan padi kolektif (leuit dan saung lisung). Mungkin masih ada bangunan-bangunan lain seperti rumah huma, bangunan penjagaan dan lain-lain, tetapi bukan merupakan unsur yang tipikal. Orientasi bangunan masih mentaati sisa-sisa pemujaan kesuburan dengan mengutamakan arahan-arahan Timur-Barat.
Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan besar yang memiliki wilayah jajahan yang sangat luas. Wilayahnya, apabila dipetakan sekarang meliputi 15 kabupaten, 11 kabupaten di wilayah Jawa Barat dan Banten sekarang, serta empat lagi diantaranya kabupaten di Jawa Tengah (Kabupaten Banyumas, Cilacap, Tegal, dan Brebes). Di bentangan  luas wilayah tersebut terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang menjadi jajahan Pajajaran. Kerajaan-kerajaan kecil tersebut diperkenankan mengelola seluruh hasil bumi dan kegiatan perekonomiannya.
Agama resmi yang dianut di Kerajaan Pajajaran adalah agama Hindu, tetapi sebenarnya saat itu agama leluhur sudah mulai kembali mendesak keberadaan agama Hindu. Keadaan tersebut membuat pemuka Hindu saat itu harus “kompromi” dengan ajaran leluhur. Salah satu bentuk kompromi tersebut adalah dengan diposisikannya Batara Seda Niskala di atas dewa-dewa Hindu. Batara Seda Niskala adalah sebutan lain untuk Hiyang, yaitu dewa tertinggi pada ajaran leluhur yang menciptakan, menguasai, dan menentukan kehidupan manusia dan kehidupan alam pada umumnya. Dia berada di luar alam kehidupan manusia, yaitu bersemayam di Kahiyangan. Sifat-sifat Hiyang tercermin dalam julukan-Nya, antara lain Batara Seda Niskala (Yang Gaib), Batara Tunggal (Yang Maha Esa), Sanghiyang Keresa (Yang Kuasa), Batara Jagat (Yang Menguasai Alam Semesta). Mereka pun membuat ajaran keyakinan, tata cara peribadatan kepada Hiyang, dan etika hidup keagamaan mereka sendiri. Ajaran keyakinan, tata cara peribadatan, dan etika hidup keagamaan mereka dinamai agama Jatisunda. Para penduduk yang tidak puas terhadap ajaran agama Hindu dan Budha, maka muncullah agama Jatisunda sebagai jalan keluarnya.
Cita-cita tertinggi umat beragama di Pajajaran adalah ingin bertemu dengan Hiyang (bukan dewa). Bertemunya dengan Hiyang tersebut dipercaya setelah seseorang meninggal, saat tubuh (wujud kasar) telah berubah menjadi sukma (wujud halus). Untuk mempercepat proses dari tubuh menjadi sukma maka dilakukan proses kremasi (pembakaran jenazah).
Pada perkembangannya, agama Hindu, Budha, dan Jatisunda kemudian terdesak oleh ajaran agama Islam yang mulai giat disebarkan oleh para ulama. Proses Islamisasi di tanah Sunda pada umumnya berjalan secara damai, kecuali untuk daerah-daerah Rajagaluh, Talaga (Majalengka), Pakuan (Bogor), dan Gunung Karang (Banten). Masa awal Islamisasi di tanah Sunda diawali oleh kegiatan perguruan agama Islam di bawah asuhan ulama pendatang, seperti Syekh Hasanudin di Karawang dan Syekh Datuk Kahfi. Kemudian beberapa waktu kemudian dilanjutkan oleh syi’ar dari Sunan Gunung Jati dari Cirebon, Sultan Hasanuddin di Banten, Syekh Abdulmuhyi di Pamijahan (Tasikmalaya), Syekh Arif di Cangkuang (Garut), Sunan Godog di Suci (Garut), Sunan Cikadueun di Pandeglang, dan Aria Wangsagoparana di Sagalaherang (Subang).
Proses Hinduisasi di tanah Sunda (juga di Indonesia umumnya), bermula dari kalangan atas atau elite (keraton), tetapi sebaliknya proses Islamisasi bermula dari kalangan bawah atau rakyat biasa. Oleh karena itu, penganut agama Hindu dan Budha serta agama Jatisunda di kalangan bawah secara massal beralih agama menjadi penganut Islam. Beberapa persamaan prinsip antara agama nenek moyang (Jatisunda) dengan Islam, merupakan faktor pendorong bagi perkembangan agama Islam menjadi begitu pesat. Orang Sunda masa pra-Islam menemukan Hiyang sebagai Tuhan mereka. Ternyata rumusan dan sifat-sifat Hiyang itu, memiliki beberapa persamaan makna dan gambaran dengan rumusan makna dan gambaran Allah dalam ajaran agama Islam, yang berbeda menyangkut istilah-istilahnya semata. Yang paling prinsipil ialah keyakinan bahwa Tuhan itu ada dan hanya satu. Dalam ajaran Jatisunda, hal itu disifatkan dengan sebutan Batara Tunggal dan dalam ajaran agama Islam dirumuskan dalam ungkapan Allahu Ahad, Tuhan Yang Maha Esa.
Di Ibukota Pajajaran selalu diadakan upacara Gurubumi dan Kuwerabakti setiap tahunnya. Dalam upacara itu hadir para pembesar dan raja-raja daerah. Upacara Gurubumi dimulai 49 hari setelah penutupan musim panen dan berlangsung selama 9 hari dan kemudian ditutup dengan upacara Kuwerabakti pada malam bulan purnama. Raja-raja daerah harus datang dengan membawa barang antaran, ikut serta juga "Anjing Panggerek" (Anjing Pemburu). Biasanya dalam upacara ini diadakan semacam permainan berburu binatang di hutan yang dilakukan oleh para pembesar Kerajaan termasuk raja. Upacara Gurubumi yang di adakan 49 hari setelah panen dimaksudkan agar raja-raja daerah berkesempatan mengadakan upacara penutupan panen di daerahnya masing-masing sebelum berangkat ke ibukota Pakuan.
Dalam Kropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarang Bungbulang, Garut) harus membawa "kapas sapuluh carangka" (10 carangka = 10 pikul = 1 timbang) sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun.
Sedangkan menurut Kropak 630 dijelaskan, urutan pajak yang ada di Pajajaran adalah adalah dasa, calagra, upeti, dan panggeureus reuma.
Dasa adalah sistem kerja perorangan, Calagra berarti semacam kerja bakti, Upeti adalah semacam pajak daerah, sedangkan Panggeureus Reuma adalah hasil cuma-cuma tanpa usaha (hasil lebih) dari bekas ladang (padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan kemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat / tohaan). Panggeureus Reuma atau juga dinamakan pare dongdang (disebut seperti itu karena padi yang dibawa dengan cara digotong hingga berayun / dongdang) inilah yang dikategorikan sebagai barang antaran untuk Pakuan setiap upacara Gurubumi dan Kuwerabakti.
Pajak secara pemberian materi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan hanya kepada penguasa setempat. Sedangkan pajak yang dikenakan pada rakyat hanyalah pajak dalam bentuk tenaga dalam bentuk "dasa" dan "calagra". Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya: menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di "serang ageung" (ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi). Dalam kropak 630 disebutkan "wwang tani bakti di wado" (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagra. 
Pada saat itu, Pajajaran termasuk salah satu kerajaan besar yang ada di Nusantara, dimana kerajaan ini memiliki jaringan sarana transportasi darat yang menghubungkan negeri-negeri di Jawa Barat (jalan raya untuk dilalui pedati yang merupakan kendaraan paling besar di zaman itu). Saat ini, sisa peninggalan jalan raya dari kerajaan ini masih bisa kita lihat di daerah Karangkamulyan, Ciamis walaupun tinggal tersisa beberapa meter saja. 
 Untuk jaringan transportasi laut, Pajajaran memiliki beberapa pelabuhan penting yang bertindak sebagai pelabuhan internasional. Salah satu pelabuhan yang cukup terkenal adalah Pelabuhan Kalapa (oleh orang asing akhirnya disebut dengan Sunda Kelapa). Pelabuhan Kalapa ini merupakan pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran. Pelabuhan Kalapa ramai dikunjungi kapal-kapal dari Sriwijaya, Tanjung Pura, Malaka dan bahkan kapal-kapal dagang dari India, Tiongkok Selatan dan Kepulauan Ryuku.
Sedangkan pelabuhan-pelabuhannya yang lain antara lain, masih digunakan hingga masa VOC, yaitu antara lain Pontang, Cibanten (keduanya berada di wilayah Banten), Cigede, Muara Jati (Cirebon), Tamgara (Muara Cisadane), Muara Citarum (ujung Karawang), dan Muara Cimanuk.
Tome Pires mencatat, komoditi perdagangan yang dilakukan oleh Kerajaan Pajajaran adalah beras (mencapai 10 jung/tahun), sayuran, daging, asam (bisa hingga 1.000 kapal), dan lada (1.000 bahar/tahun). Sementara itu Pajajaran juga sudah mampu mengekspor kain tenun ke Malaka.
Kerajaan Pajajaran, memiliki senjata khas yang biasa digunakan baik untuk berperang, kepentingan sehari-hari, maupun sebagai barang pusaka kerajaan. Senjata ini disebut Kujang, dan hanya digunakan oleh kelompok tertentu seperti para Raja, Prabu Anom (Putra Mahkota), golongan Pangiwa, golongan  Panengen, golongan Agama, para Putri  dan Kokolot.  Setiap golongan ini memiliki kujang yang berbeda-beda bentuk dan jenisnya, tentunya hal ini disesuaikan pada strata dalam kerajaan maupun keperluannya.
             Kujang memiliki beberapa bentuk  seperti Kujang Ciung (bentuknya  menyerupai burung ciung), Kujang Jago (bentuknya menyerupai ayam jago), Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul), Kujang Bangkong (bentuknya seperti bangkong), Kujang Naga (bentuknya menyerupai naga), Kujang Badak (bentuknya dianggap seperti badak), dan Kudi (suatu alat perkakas sejenis kujang).
Kujang juga memiliki fungsi sebagai pusaka (lambang keagungan seorang raja atau pejabat kerajaan), pakarang (senjata untuk perang), Pangarak (kujang bertangkai panjang menyerupai tombak sebagai alat upacara), dan Kujang Pamangkas (digunakan sebagai alat pertanian).
Adapun wujud sebilah Kujang memiliki bagian-bagian  seperti Papatuk atau congo (bagian ujung yang runcing yang digunakan untuk menoreh atau mencungkil), Eluk atau Siih (lekukan-lekukan pada bagian kujang gunanya untuk mencabik-cabik perut musuh), Waruga (badan Kujang), Mata (lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan Kujang  ada yang jumlahnya 9 dan minimal 5 lubang atau tanpa lubang sama sekali  dan ini disebut “kujang buta”, Pamor (garis-garis atau bintik-bintik pada badan Kujang disebut Sulangkar atau tutul konon mengandung racun dan gunanya untuk memperindah bilah Kujang), Tonggong (sisi yang tajam di bagian punggung Kujang, biasanya untuk mengerat atau mengiris), Beuteung (sisi yang tajam di bagian perut Kujang), Tadah (lengkung kecil pada bagian bawah perut Kujang), Paksi (bagian ekor Kujang yang lancip), Selut (ring pada  pada ujung atas gagang Kujang), Combong (lubang pada gagang Kujang), Ganja (nama khas gagang Kujang), Kowak (nama khas sarung Kujang).
Sumber hukum dari Kerajaan Pajajaran adalah Sanghiyang Siksa Kanda ng Karesian  dan Séwaka Darma yang merupakan ajaran  berdasarkan pengetahuan dan pengalaman para leluhur serta disampaikan secara lisan dan tulisan  (menggunakan daun lontar, nipah, enau, kelapa, serta peso pangot, kalam, dan tinta sebagai alat tulisnya) dari satu generasi ke generasi berikutnya. Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian aslinya ditulis pada bulan 3 tahun 1440 Saka (tahun 1518 Masehi). Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian terdaftar sebagai MSB (Manuscript Soenda B) dengan nomor kropak 630 pada Museum Nasional di Jakarta hasil sumbangan dari pemilik lamanya, yaitu R. Saleh. Dari kedua naskah tersebut tampak  bahwa Bahasa Sunda (Kuno) telah digunakan di Kerajaan Pajajaran. Bahasa tersebut terlihat banyak dimasuki oleh  kosakata dan pengaruh dari struktur Bahasa Sanskerta (India).
Kerajaan Sunda menempatkan hukum-hukum tersebut pada kedudukan sangat penting dan memandangnya sebagai faktor yang menentukan maju mundurnya keadaan negara dan masyarakat. Orang-orang yang ingat kepada Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian, berpegang teguh kepada ajaran mereka yang lebih tua, mengetahui peraturan, mengukuhkan kata-kata sentosa dikatakan sebagai manusia yang muncul dari kesucian tanah atau nirmala ning lemah.
Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian membicarakan perbuatan-perbuatan manusia yang salah, yaitu catur buta (empat hal yang mengerikan), antara lain burangkak, marende, mariris dan wirang. Orang yang semasa hidupnya berkelakuan burangkak, yaitu ketus, tak mau menyapa sesamanya, bicara sambil marah dan membentak, bicara sambil membelalak, bicara kasar dengan nada menghina, buruk kelakuan, berhati panas diibaratkan sebagai raksaksa durgi durga kala (buta / mahluk-mahluk yang menghuni mala ning lemah).
            Salah satu ajaran dari Sanghiyang Siksa Kanda ng Karesian tertulis dalam bentuk prosa pada Kropak 630 di bawah ini :
Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu
“Hendaknya kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa”.

            Kemudian, beberapa petuah lain yang tertulis dalam Sanghiyang Siksa Kanda ng  Karesian adalah :
Eta kehna kanyahokeuneun, di tuhuna di yogyana, aya ma nu majar mo nyaho, eta nu mo satya di guna di maneh, mo teuing di carek dewata urang. Tan awurung inanti dening kawah, lamun guna mo dipiguna, lamun twah mo dipitwah, sahinga ning guna kreta, kena itu tangtu hyang tangtu dewata.
“Itu semua yang patut diketahui, tepatnya dan perlunya. Bila ada yang mengatakan tidak perlu tahu, itulah yang tidak akan setia kepada keahlian dirinya; mengabaikan ajaran leluhur kita, pasti ditunggu oleh neraka; bila keahlian tidak dimanfaatkan, bila kewajiban tidak dipenuhi untuk mencapai kebajikan dan kesejahteraan, karena semua itu ketentuan dari hyang dan dewata”.

Lembar XXII: baris 533 sampai dengan 537 dalam Sanghiyang Siksa Kandang Karesian, menjelaskan mengenai aturan-aturan dalam lokasi terlarang yang tidak layak dihuni manusia :
Mala ning lemah ngara(n)na: sodong, sarongge, cadas gantung, mu(ng)kal pategang, lebak, rancak, kebakan badak, catang nu(ng)gang, catang nonggeng, garunggungan garenggengan, lemah sahar, dangdang wariyan, hunyur, lemah laki, pitunahan celeng, kalo(m)beran, jaryan, sema; sawatek lemah kasingsal.
Yang disebut kotoran bumi ialah ceruk (lobang dangkal pada sisi bawah tebing karang atau tepi sungai), tempat angker dihuni roh jahat, cadas bergantung, sebidang lahan yang dikelilingi bongkahan karang atau gundukan batuan di sekelilingnya, ngarai, batu besar bercelah, kubangan, batang kayu roboh dengan bongkot sebelah bawah, batang kayu roboh dengan bongkot di atas, tanah membukit kecil,  tanah yang kering permukaannya tetapi dibawahnya berlumpur, tanah panas / sangar (tempat bekas terjadinya pembunuhan atau pertumpahan darah),  dandang berair, sarang semut / sarang rayap, tanah berbentuk dinding curam, tempat babi, comberan, tempat pembuangan sampah, kuburan

Sedangkan salah satu ajaran dari Séwaka Darma (abad ke-16) tertulis dalam bentuk puisi pada Kropak 408 di bawah ini :
Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning Séwaka Darma
“Inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma”.

 Sebelum membahas mengenai Raja-Raja yang berkuasa di Pajajaran secara berurutan, terlebih dahulu saya akan menceritakan sekilas kehidupan Prabu Jayadewata (Prabu Siliwangi) sebelum menjabat sebagai Raja Pajajaran yang pertama. 
Jayadewata dilahirkan di Keraton Surawisesa, Kawali pada tahun 1401. Kakeknya (Prabu Anggalarang / Raja Sunda ke-33) memberi nama Pamanahrasa, sedangkan ayahnya (Dewa Niskala / Raja Galuh) memberi nama Jayadewata. Masa kecilnya, Jayadewata banyak menimba ilmu dari kakeknya.
              Pada saat ayahnya berkuasa di Kerajaan Galuh, Jayadewata diangkat sebagai Putera Mahkota / Prabu Anom di Kerajaan Galuh.
Saat menginjak usia muda, Jayadewata kemudian berkelana seperti yang pernah dilakukan kakeknya di waktu muda. Jayadewata pergi mengembara ke arah utara menuju Kerajaan Surantaka yang saat itu dipimpin oleh pamannya yang bernama Ki Gedeng Sindangkasih. Di kerajaan itu, Jayadewata bekerja dengan tekun tanpa merasa dirinya sebagai putera mahkota Galuh. Disanalah Jayadewata bertemu dengan puteri Ki Gedeng Sindangkasih yang bernama Nyi Ambetkasih yang akhirnya dinikahinya. Dari pernikahannya dengan Nyi Ambetkasih, Jayadewata  tidak dikaruniai anak.
Karena Jayadewata selalu haus akan ilmu dan pengalaman, Jayadewata kembali mengembara ke arah utara menuju Kerajaan Sing Apura yang saat itu dipimpin oleh pamannya yang lain bernama Ki Gedeng Tapa. Di sana, Jayadewata banyak mengamati tingkah laku dan kehidupan sehari-hari penduduk Kerajaan Sing Apura. Saat itu beliau menyamar sebagai pengelana dengan nama samaran Keukeumbingan Rajasunu, karena tidak ingin diperlakukan istimewa. Suatu hari di Kerajaan Sing Apura diadakan sayembara (dengan cara tarung satria) untuk memperebutkan puteri sang raja yang cantik. Puteri itu bernama Subanglarang (lahir tahun 1404), seorang wanita muslim yang pernah menimba ilmu di Pesantren Quro, Pura Dalem Karawang selama 2 tahun (1418 - 1420).
Masih dengan memakai nama samaran, Jayadewata kemudian ikut dalam sayembara itu, disitu beliau banyak mengalahkan saingan-saingannya. Sebagai satria pemberani dan tangkas, Jayadewata maju ke babak terakhir menghadapi Ratu Japura / Prabu Amuk Marugul (putera dari Prabu Susuktunggal / raja Sunda ke-34). Akhirnya, Jayadewata menjadi orang satu-satunya yang mampu mengalahkan kesaktian Amuk Marugul. Setelah berhasil memenangkan sayembara itu, akhirnya pada tahun 1422, Jayadewata menikahi Subanglarang yang saat itu berusia 18 tahun. Diperkirakan pada saat pernikahan, Subanglarang beragama Islam, sedangkan Jayadewata tetap memeluk agama Hindu. Setelah menikah, Jayadewata diangkat sebagai Putera Mahkota Kerajaan Sing Apura.
Tidak jelas apakah setelah menikahi Subanglarang atau sebelumnya, yang pasti Prabu Jayadewata sempat menikah dengan Nyai Acih Putih. Puteri ini merupakan anak dari Ki Dampu Awang (Duta Cina untuk urusan perdagangan yang menetap di Kerajaan Sing Apura, setelah datang dengan rombongan Laksamana Cheng Ho di tahun 1416). Dari pernikahannya ini, Prabu Jayadewata dikaruniai seorang putri bernama Nyai Rara Budaya.
Sementara itu dikarenakan perebutan hak pengaturan Pelabuhan Japura yang saat itu ramai, maka di tahun 1422 terjadi pertempuran antara Kerajaan Sing Apura dengan Kerajaan Japura. Prabu Jayadewata yang telah menjabat sebagai Prabu Anom di Kerajaan Sing Apura, turun langsung ke medan pertempuran sebagai panglima perang. Pertempuran tersebut kembali mempertemukan antara 2 orang ksatria yang cukup tangguh yaitu Prabu Jayadewata dengan Prabu Amuk Marugul (Raja Japura yang juga turun langsung memimpin pasukannya). Sengitnya pertempuran tersebut akhirnya lagi-lagi dimenangkan oleh Prabu Jayadewata, sehingga mulai saat itu Kerajaan Japura berakhir riwayatnya setelah Kerajaan Sing Apura mengambil alih wilayahnya.
Amuk Marugul yang merasa penasaran terhadap orang yang selalu mengalahkannya, kemudian mendatangi Jayadewata dan menanyakan jati dirinya. Akhirnya Jayadewata membuka identitas yang sebenarnya. Setelah mengetahui bahwa orang tersebut bernama Jayadewata yang berarti saudaranya, maka Amuk Marugul mengundang Jayadewata ke Pakuan untuk dikenalkan dengan orang tuanya (Haliwungan, yang berarti masih uwak dari Jayadewata).
            Di Pakuan, Jayadewata disambut hangat oleh Haliwungan (kemungkinan saat itu Haliwungan masih menjabat sebagai raja daerah atau belum dinobatkan sebagai Raja Sunda ke-34), dan kemudian Jayadewata dinikahkan dengan Kentring Manik Mayang Sunda (adik dari Amuk Marugul). Karena kecakapan dan kepiawaian Prabu Jayadewata melebihi Prabu Amuk Marugul, maka Haliwungan menunjuk Jayadewata sebagai Putera Mahkota / Prabu Anom dari mulai Pakuan sebagai Kerajaan daerah bawahan Sunda, hingga menjadi pusat Kerajaan Sunda. Setelah Prabu Jayadewata menikahi Kentring Manik Mayang Sunda, Jayadewata akhirnya menghentikan pengembaraannya dan menetap di Pakuan untuk membantu tugas sehari-hari dari mertuanya.
Dari pernikahannya dengan Subanglarang, Jayadewata memperoleh 3 orang anak, mereka itu adalah :
1.   Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), lahir tahun1423.
2.   Nyai Larasantang, lahir tahun 1426
3.   Rajasangara. (Kiansantang), lahir tahun 1428
Setelah Subanglarang meninggal pada tahun 1441 dalam usia 37 tahun, setahun kemudian Raden Walangsungsang serta Nyai Larasantang meninggalkan Istana Pajajaran di Pakuan dan memilih menetap di Cirebon untuk tinggal bersama kakeknya (Ki Gedeng Tapa / raja Sing Apura), sebelum akhirnya mereka memeluk agama Islam bermazhab Hanafi, mengikuti agama ibunya. Sedangkan Rajasengara kemungkinan besar tidak diizinkan oleh ayahnya untuk ikut menetap berasama kakeknya.
Sedangkan dari pernikahannya dengan Kentring Manik Mayang Sunda (puteri ini dijadikan permaisuri yang resmi), Sri Baduga Maharaja memiliki putera yang bernama Surawisesa (kelak menjadi penerus Pajajaran) dan Surasowan (kelak menjadi raja Kerajaan Banten Pasisir).
              Dari pernikahan-pernikahannya itu, maka Jayadewata merupakan orang yang menjabat sebagai Putera Mahkota di 2 kerajaan (Sing Apura – Sunda), ditambah dengan Putera Mahkota Galuh (yang diterimanya berdasarkan statusnya sebagai putera sulung raja Galuh) maka status beliau adalah Putera Mahkota di 3 kerajaan sekaligus. Sedangkan tahta kerajaan Surantaka (hasil pernikahannya dengan Nyi Ambet Kasih) tidak dihitung karena saat itu Kerajaan Surantaka telah dilebur menjadi satu dengan Kerajaan Sing Apura.
            Setelah beberapa tahun menjabat sebagai Prabu Anom, Prabu Jayadewata kemudian menikah lagi dengan Ratu Istri Rajamantri (Putri Prabu Gajah Agung dari Kerajaan Geger Hanjuang).
            Karena hal ini dan tentunya juga karena kecakapan Jayadewata, akhirnya ketika terjadi perselisihan antara kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda, maka Jayadewata dianggap sebagai jalan tengah terbaik untuk meneruskan kepemimpinan dari 2 kerajaan tersebut dalam satu tangan. (lihat Kerajaan Sunda, sub-Haliwungan).

Berikut ini urutan Raja-raja Pajajaran berdasarkan urutan tahun kekuasaannya :

   1.    PRABU JAYADEWATA (1482 – 1521)
                               ( PRABU SILIWANGI )
Jayadewata secara resmi diangkat sebagai raja Kerajaan Pajajaran yang bertahta di Pakuan saat berusia 81 tahun. Saat pengangkatannya, dilakukan 2 kali penobatan. Dari penobatannya pertama sebagai penguasa Galuh beliau diberi gelar Ratu Purana Prebu Guru Dewapranata. Sedangkan untuk penobatannya sebagai penguasa Sunda-Galuh, beliau diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.
Dari beberapa kali pernikahannya, Sri Baduga Maharaja dikabarkan memiliki 13 orang anak yang  rata-rata menjadi raja / penguasa yang menyebar ke seluruh Tatar Pasundan.
Karena sepak terjang Jayadewata saat menjadi Prabu Anom maupun setelah menjadi Raja Pajajaran begitu hebat dan dikagumi oleh seluruh rakyatnya serta dianggap sebagai raja di tatar Sunda yang terbesar setelah era kekuasaan kakeknya (Prabu Niskala Wastukancana), maka banyak para pujangga Sunda menceritakan tokoh ini ke dalam bentuk sastra (seperti dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun). Melalui bahasa pujangga-pujangga tersebut Jayadewata digelari Prabu Siliwangi (berasal dari kata “silih” yang berarti menggantikan dan “wangi” yang diambil dari gelar kakeknya yaitu Prabu Wangi / Prabu Anggalarang / Prabu Niskala Wastukancana).  Jadi, penggunaan gelar Prabu Siliwangi ini sebenarnya bukan merupakan gelar resmi, dan sang raja pun tidak pernah menggunakan gelar ini untuk menunjukkan jati dirinya (seperti yang tertulis pada prasasti-prasasti). Pemakaian sebutan Prabu Siliwangi lebih bersifat kesusastraan, dan kebiasaan dari rakyat di zaman itu yang merasa tabu (tidak boleh) untuk menyebut secara langsung nama atau gelar sesungguhnya dari sang raja yang berkuasa dalam percakapan mereka sehari-hari.
Wangsakerta (ahli sejarah dari Cirebon sekaligus penganggung jawab dari penyusunan Sejarah Nusantara) mengungkapkan bahwa  Siliwangi bukan nama pribadi, seperti tulisannya :
"Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira"
(Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya).

           Jayadewata merupakan Prabu Siliwangi yang sangat terkenal  atau yang selama ini sering diceritakan  kemahsyurannya didalam cerita-cerita sejarah Pajajaran dan masyarakat Sunda.
Di saat kekuasaanya, Pajajaran mengalami masa kejayaannya (kretayuga), dimana sosial ekonomi rakyatnya cukup sejahtera serta Pakuan yang menjadi ibukota kerajaan mencapai puncak perkembangannya.
Sang Maharaja memperkuat sistem pertahanan Pakuan secara spektakuler yaitu dengan cara memperkokoh parit yang mengelilingi kerajaannya sepanjang 3 kilometer di tebing Cisadane (parit tersebut pertama kali dibuat oleh Rakeyan Banga). Sedangkan bekas tanah galian dari proyek itu kemudian dijadikan benteng yang memanjang di bagian dalam, sehingga jika musuh menyerang dari luar akan terhambat oleh parit kemudian benteng tanah.
Kemudian Sang Maharaja membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, yaitu bukit Badigul di daerah Rancamaya (Bogor). Tempat tersebut dijadikan sebagai tempat upacara keagamaan dan menyemayamkan abu jenazah dari raja-raja tertentu.
Beliau juga memperkeras jalan dengan batu-batuan tertentu dari keraton hingga gerbang Pakuan, kemudian dilanjutkan lagi hingga ke Rancamaya (kurang lebih 7 km). Gerbang Istana depan dinamakan Lawang Saketeng, sedangkan gerbang istana belakang dinamakan Lawang Gintung.
Untuk pelestarian lingkungan alam, Sang Maharaja membuat semacam hutan lindung yang berfungsi sebagai reservoir alami. Hutan tersebut ditanami pohon samida, pohon tersebut kemungkinan hanya boleh ditebang jika kayunya diperlukan untuk kepentingan upacara kremasi.
Karya besar dari Sri Baduga Maharaja yaitu pembangunan telaga besar yang bernama Sang Hyang Talaga Rena Mahawijaya di hulu sungai Ciliwung (Rancamaya, Bogor). Telaga tersebut berfungsi sebagai tempat pariwisata dan penyuburan tanah.
Karya-karya lainnya dari Sri Baduga Maharaja antara lain membuat jalan ke Wanagiri,  membuat “kaputren” (tempat isteri-isteri-nya), “kesatrian” (asrama prajurit), satuan-satuan tempat (pageralaran), tempat-tempat hiburan, memperkuat angkatan perang, serta menyusun Undang-Undang Kerajaan Pajajaran.  Undang-undang yang disebut Sanghiyang Siksakandang Karesian ini dirumuskan berdasarkan sistem pemerintahan Sri Baduga Maharaja yang sangat adil, Undang-Undang ini disusun pada tahun 1518.
Sri Baduga Maharaja memiliki ahli syair yang bernama Buyut Nyai Dawit, sedangkan ahli pemerintahan dipegang oleh Adipati Pangeran Papak.
Kebijakan yang paling menarik di saat kekuasaan dari Sri Baduga Maharaja adalah dengan membuat penetapan batas-batas kabuyutan (daerah yang dianggap suci dan dijadikan pusat pendidikan)  yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" atau disebut juga desa perdikan (desa bebas pajak) di daerah Sunda Sembawa, Gunung Samaya, dan Jayagiri. Tindakan ini diambil karena Sri Baduga Maharaja merasa harus menjalankan amanat dari kakeknya (Prabu Anggalarang / Prabu Niskala Wastukancana). Bahkan amanat tersebut diabadikan dalam prasasti yang terbuat dari tembaga sebanyak 5 keping. Prasasti tersebut kemudian ditemukan di Kabantenan. (isi dari prasasti itu lihat Kerajaan Sunda sub- Prabu Anggalarang).
Penduduk di lurah kawikuan tersebut dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif / kerja bakti), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dongdang" (padi 1 gotongan).
Selain di 3 buah desa kawikuan, Sri Baduga Maharaja juga memerintahkan kepada para petugas muara agar dilarang untuk memungut bea. Raja ini menganggap, tidak perlu memungut pajak pada mereka yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran dan yang terus mengamalkan peraturan dewa.
Dalam hal memperkuat angkatan perang, Prabu Siliwangi ini membentuk satuan tentara dengan tugas yang jelas. Misalnya Bhayangkara (prajurit keamanan), Pamarang (prajurit yang ahli memainkan pedang) dan Pamanah (prajurit ahli memanah). Dengan pembagian tugas tersebut menjadikan Pajajaran memiliki armada perang yang tangguh.
Sedangkan untuk pertahananan di dalam kerajaan, Sri Baduga Maharaja selalu menekankan kepada rakyatnya agar berpedoman setia kepada kebiasaan dan keaslian leluhur, jika hal itu dilaksanakan dengan baik, maka beliau meyakini bahwa Pajajaran tidak akan kedatangan musuh. Beliau sangat menganjurkan kepada semua pendeta dan pengiringnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat.
Kemahsyuran Pelabuhan Muara Jati sebagai pelabuhan internasional makin berkembang saat Raden Walangsungsang (anaknya dari Subang Larang), menetap di Cirebon dan mendirikan Pakuwuan Cirebon Larang di Cirebon pesisir. Langkah yang dilakukan Raden Walangsungsang dalam mengelola Pelabuhan Muara Jati waktu itu (tugas warisan dari Ki Gedeng Tapa yang telah wafat) di antaranya adalah membentuk satuan penjaga keamanan untuk mengamankan Pelabuhan Muara Jati yang semakin ramai.
Setelah daerah itu semakin maju, akhirnya Raden Walangsungsang diangkat sebagai raja daerah Kerajaan Cirebon Larang oleh Sri Baduga Maharaja.
Sebagai kerajaan yang memperoleh pendapatan dari hasil niaga, Pajajaran saat itu merasa cemas dengan hubungan harmonis antara Cirebon Larang (yang dipimpin oleh anaknya yang bernama Raden Walangsungsang) dan Demak. Pada saat itu, armada Laut Demak sering berada di pelabuhan Muara Jati. Sri Baduga Maharaja khawatir apabila kehadiran armada Demak dapat mengganggu jalannya perniagaan Pajajaran. Sekitar abad ke-15 di Nusantara, Pajajaran dan Demak termasuk kerajaan yang memiliki jalur perdagangan sangat ramai.
Demak yang terkenal kuat dalam angkatan lautnya, saat itu tengah mengalami beberapa kekalahan dari Portugis yang telah menguasai selat Malaka. Berita kekalahan ini membuat Sri Baduga Maharaja merasa perlu mengadakan hubungan kerjasama dengan Portugis.
Seperti yang kita tahu, Pajajaran merupakan penguasa di Selat Sunda dan Portugis berkuasa di Selat Malaka. Sebagai penguasa di 2 selat yang menjadi jalan masuk perniagaan dan bangsa asing ke Nusantara, tentunya keputusan Sri Baduga Maharaja ini sangat cemerlang. Kerjasama antara Pajajaran dan Portugis sangat tepat dilakukan untuk menguasai jalur niaga di Nusantara.
Kerjasama ini dilakukan bukan maksud menggalang kekuatan untuk menyerang Demak, melainkan hanya upaya antisipasi apabila Demak membantu Cirebon melakukan serangan dalam upaya pembebasan diri dari Pajajaran. Rupanya, Sri Baduga Maharaja sudah dapat mencium gelagat dari Raden Walangsungsang dalam upaya memerdekakan diri.
Untuk memuluskan rencananya, maka Sri Baduga Maharaja mengutus Surawisesa (putera mahkota Pajajaran) untuk mengadakan kerjasama dengan Alfonso d’ Albuquerque (Laksamana Bunker Portugis di Malaka).
Pada tahun 1512, Surawisesa mengunjungi Malaka dan akhirnya perjanjian bilateral resmi antara Pajajaran – Portugis, dengan hasil kesepakatan adalah Portugis berjanji untuk membantu Kerajaan Pajajaran bila diserang oleh pasukan Demak dan Cirebon, serta ingin menjalin hubungan dagang.
Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1513, Pajajaran didatangi oleh duta-duta dari Portugis dengan menumpang 4 buah kapal. Salah seorang dari rombongan Portugis tersebut bernama Tome Pires yang bertindak sebagai juru catat perjalanan. Tome Pires sendiri mencatat mengenai kekuasaan dari Sri Baduga Maharaja adalah “the kingdom of Sunda is justtly governed” (Kerajaan Sunda / Pajajaran diperintah dengan adil). Kerjasama kali itu baru merupakan tahap penjajakan.
Kebijakan-kebijakan dari Prabu Siliwangi itulah yang menunjukan kemakmuran, kebesaran, dan kejayaan Pajajaran pada masa kekuasaannya. Raja ini menerapkan motto hidup “silih asah, silih asih, silih asuh“. Dengan kebijakan dan strategi-strategi itu pula, kita dapat mengakui bahwa Prabu Siliwangi ini  adalah seorang raja  yang mampu memimpin kerajaan dan juga seorang yang ahli strategi perang, sehingga saat itu Pajajaran tidak dapat disusupi oleh musuh. Karena itulah, orang pada zaman itu seakan  teringat  kembali   kepada   kebesaran    mendiang kakek buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur pada Perang Bubat.

Dalam Carita Parahyangan, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian :
"Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa"
(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Bahagia sejahtera di utara, selatan, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).

Namun kebesaran yang dimiliki Pajajaran saat itu tidak serta merta membuat sang raja merasa tenang, hal ini dikarenakan pada saat itu banyak Rakyat Pajajaran yang beralih ke agama Islam dengan meninggalkan agama lama. Mereka oleh sang Maharaja disebut "loba" (serakah) karena merasa tidak puas dengan agama yang ada, lalu mencari yang baru. Meskipun merasa kesal, tetapi Sri Baduga Maharaja hanya bisa menyindir tanpa melakukan tindakan “fisik” atau mengeluarkan perintah larangan, karena beliau menyadari bahwa memilih agama merupakan hak bagi setiap rakyatnya. Dengan demikian beliau tetap memperlakukan adil bagi rakyatnya yang telah memeluk agama Islam.
Untuk lebih mempererat kerjasama dengan Portugis, pada tahun 1521 Sri Baduga Maharaja kembali menugaskan Surawisesa untuk menemui Portugis di Malaka. Penugasan ini dilakukan beberapa bulan sebelum sang Maharaja wafat.
Sri Baduga Maharaja wafat pada tanggal 31 Desember 1521 dalam usia yang sangat sepuh yaitu 120 tahun. Kekuasaan Kerajaan Pajajaran diserahkan pada puteranya yang bernama Surawisesa (anak dari Kentring Manik Mayang Sunda).
Ketika sudah dikubur selama 12 tahun, makam Sri Baduga Maharaja digali kembali atas  perintah  dari  Surawisesa.  Kemudian  kerangkanya  diangkat untuk dikremasi. Setelah itu, abu jenazahnya tadi kemudian ditaburkan di Rancamaya, Bogor  ( kini  sudah  dijadikan  lapangan  golf   serta  perumahan mewah). Selain di Rancamaya, sisa abu jenazahnya itu kemudian dibagikan kepada raja-raja daerah (bawahan Pajajaran) untuk dipusarakan di tempat kabuyutan daerah itu. Karena itulah, maka tidak perlu heran apabila di beberapa tempat banyak yang mengklaim sebagai tempat dari makam Prabu Siliwangi.
Sebelum Rancamaya dikembangkan menjadi kawasan elite (sekitar tahun 1991), di kawasan Situs Sanghiyang Rancamaya terdapat Talaga Rena Maha Wijaya dan di puncak bukit kawasan itu juga bisa kita jumpai batu yang bentuknya menyerupai belalang berdiri dengan tinggi sekitar 40 centimeter. Benda tersebut ditancapkan di atas bukit punden, dipayungi dedaunan dari pepohonan yang rindang. Punden yang dinamakan punden berundak Padungkulan itu diyakini oleh masyarakat setempat sebagai kompleks tempat hiyang (menghilang ke alam lain) raja-raja Pajajaran dan kerabatnya.

2.     PRABU SURAWISESA (1521 – 1535)
Pengganti Prabu Jayadewata adalah Surawisesa. Acara penobatan Surawisesa dihadiri oleh utusan Portugis dari Malaka yaitu Hendrique de Leme beserta rombongan. De Leme menyerahkan titipan hadiah dari Alfonso d’Albuquerque (Laksamana Bunker Portugis / Raja Daerah Portugis di Malaka) untuk raja baru Pajajaran sebagai tanda persahabatan.
Surawisesa adalah raja yang sangat gagah berani. Bahkan dalam Carita Parahyangan disebut  juga sebagai "kasuran" (perwira), "kadiran" (perkasa) dan "kuwanen" (pemberani). Selama 14 tahun memerintah ia telah melakukan 15 kali pertempuran.
Surawisesa memiliki permaisuri yang cantik bernama  Kinawati, puteri itu berasal dari Kerajaan Tanjung Jaya. Kinawati adalah puteri dari Cakralarang raja Kerajaan Tanjung Jaya. Baik Pakuan maupun Tanjung Jaya, lokasinya sama-sama terletak di tepi Ciliwung. Diantara dua kerajaan ini terletak kerajaan kecil bernama  Muara Beres di Desa Karadenan (dahulu bernama Kaung Pandak). Setelah menikah, Kinawati menjabat sebagai ratu daerah di Kerajaan Tanjung Jaya. Pelabuhan Kalapa yang berada di wilayah Kerajaan Tanjung Jaya, sejak beberapa tahun diurus dan menjadi tanggung jawanb dari Kerajaan Tanjung Jaya.
Pada tahun 1522, Cirebon Larang yang selama ini merupakan wilayah administratif Pajajaran akhirnya lepas dan membentuk Kesultanan Cirebon yang berfahamkan Islam dengan sultannya adalah Syarif Hidayatullah.
Pada tanggal 21 Agustus 1522, Pajajaran dan Portugis kembali  mencapai kesepakatan dalam kerjasama perdagangan dan keamanan / militer. Naskah dari perjanjian tersebut dibuat rangkap dua, ditandatangani bersama, dan masing-masing pihak memegang satu naskah perjanjian.
Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta oleh pihak Pajajaran. Kemudian pada saat benteng mulai dibangun, pihak Pajajaran akan menyerahkan 1000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan barang-barang keperluan Pajajaran sebanyak dua "costumodos" (kurang lebih 351 kuintal).
Setelah penandatanganan perjanjian tersebut, utusan Portugis diantar oleh pembesar Pajajaran menuju pelabuhan Kalapa (muara sungai Ciliwung). Pihak Portugis kemudian mencari tempat yang pas untuk mendirikan benteng di lokasi itu. setelah menemukan lokasi yang cocok, maka dipancangkan “padrao” (tonggak batu) yang berukir lencana Raja Imanuel (raja Kerajaan Portugis).
Karena Portugis menganggap Pajajaran adalah kerajaan yang kuat, maka segala bentuk kerjasama / perjanjian dengan Pajajaran, mereka selalu mengatas namakan Raja Imanuel dari Portugis.
Perjanjian antara Pajajaran dengan Portugis sangat mencemaskan Sultan Trengganu (Sultan Demak III). Selat Malaka, pintu  masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus.
Akhirnya pada tahun 1526, Trengganu segera mengirim armadanya di bawah pimpinan Fadillah Khan / Fatahillah (Senopati Demak). Pasukan Fatahillah yang merupakan gabungan pasukan Demak-Cirebon berjumlah 1.967 orang. Sasaran pertama adalah Pelabuhan Banten, pintu masuk Selat Sunda.
Sebelum kedatangan pasukan gabungan ini, di wilayah Banten terjadi huru-hara yang ditimbulkan oleh tokoh Banten yang bernama Pangeran Hasanudin (putra dari Syarif Hidayatullah) bersama para pengikutnya. Rupanya, saat itu rakyat Banten ingin lepas dari Kerajaan Banten Pasisir (kerajaan bawahan dari Pajajaran). Datangnya serangan gabungan Cirebon – Demak ke wilayah Banten ini, menambah semangat rakyat Banten untuk mendirikan kerajaan baru yang lepas dari pengaruh Pajajaran.
Kedatangan pasukan Fatahillah menyebabkan pasukan Kerajaan Banten Pasisir terdesak. Pembesar Kerajaan Banten Pasisir beserta keluarganya akhirnya mengungsi ke Ibukota Pakuan. Perjuangan terus menerus dari rakyat Banten yang dipimpin oleh Hasanuddin serta dibantu oleh Demak, berhasil memerdekakan diri dari Pajajaran, dan mulai saat itu wilayah Banten menjadi daerah bawahan Demak.
Mulai tahun 1526, hubungan antara Pajajaran dengan Cirebon (sebagai sekutu dari Demak) semakin memanas dan diantara keduanya  selalu berperang untuk menguasai wilayah di barat Jawa.
Pada tahun 1527, Fatahillah bersama sekitar 1.452 orang pasukannya kembali menyerang dan merebut pelabuhan Kalapa. Ratu Kerajaan Tanjung Jaya (Kinawati) bersama keluarga dan para menteri kerajaan Pajajaran yang bertugas di pelabuhan gugur. Pasukan bantuan dari Pakuan pun didatangkan, dan  berhasil  memukul mundur pasukan Demak-Cirebon.
Tetapi penyerangan berikutnya, kemenangan berada di pihak Demak, keunggulan pasukan Fatahillah terletak pada penggunaan meriam yang justru tidak dimiliki oleh Laskar Pajajaran.
           Pada tahun 1527, Kerajaan Tanjung Jaya (kerajaan bawahan Pajajaran) termasuk   Pelabuhan  Kalapa  dan   kota   Jayakerta  akhirnya   harus  lepas  dari Pajajaran dan menjadi bawahan Demak, pasukan penjaga pelabuhan tidak mampu  membendung serangan dari Demak yang dipimpin oleh Fatahillah. Seluruh wilayah bekas Kerajaan Tanjung Jaya kemudian berganti nama menjadi Jayakarta (diambil nama kota yang sudah ada sebelumnya) yang diartikan sebagai “kota kemenangan” tepatnya pada tanggal 22 Juni 1527 (sekarang dijadikan hari jadi kota Jakarta). Sementara itu Fatahillah sebagai panglima pasukan ditunjuk sebagai Bupati Kalapa.
Lepasnya Pelabuhan Kalapa ini tak lepas dari keterlambatan bantuan Portugis, karena Francisco de Sa yang ditugasi membangun benteng sedang diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Baru setelah pengangkatan jabatan selesai, bantuan Portugis dari Goa memberangkatkan 6 buah kapal. Tetapi, kapal Galiun yang dipimpin Fransisco De Sa dan berisi peralatan untuk membangun benteng terpaksa ditinggalkan karena armada ini diterpa badai di Teluk Benggala. Akhirnya setelah melewati berbagai rintangan, rombongan Fransisco De Sa tiba di Malaka dan ekspedsi ke dataran Sunda bertolak dari Malaka.
Rombongan Portugis ini mula-mula menuju Banten, akan tetapi karena Banten sudah dikuasai Hasanuddin, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Kalapa. Di Muara Cisadane, Fransisco De Sa memancangkan “padrao” pada tanggal 30 Juni 1527 dan memberikan nama untuk sungai Cisadane yaitu "Rio de Sa Jorge". Kemudian kapal brigantin (dipimpin Duarte Coelho) yang langsung diberangkatkan menuju Pelabuhan Kalapa terlambat mengetahui bahwa pelabuhan itu telah dikuasai pasukan Fatahillah, kapalnya menepi terlalu dekat ke pantai dan menjadi mangsa sergapan pasukan Fatahillah. Dengan kerusakan yang berat dan korban yang banyak, kapal Portugis ini mundur dan berhasil meloloskan diri ke Pasai.
Pada tahun 1528, Kerajaan Galuh (kerajaan bawahan Pajajaran yang cukup setia) akhirnya jatuh ke tangan Cirebon. Runtuhnya Galuh, akibat sikap yang terlalu berani dari raja Galuh (Prabu Jayaningrat). Raja Galuh ini ingin menunjukan kesetiaan pada Pajajaran dengan cara menyerang Cirebon. Tetapi usahanya gagal karena Cirebon saat itu telah menjadi Kesultanan yang kuat atas bantuan dari Demak. Maka mulai tahun itu, Pajajaran harus merelakan lepasnya Galuh ke tangan Cirebon. Di tahun itu juga, Kerajaan Talaga (bawahan Kerajaan Pajajaran lainnya) sama-sama mengalami penyerangan dari Cirebon. Akibat dari serangan ini maka Kerajaan Talaga menjadi bawahan Kesultanan Cirebon lepas dari Pajajaran.
Pada tahun 1530, wilayah Sumedang pun lepas setelah Ratu Pucuk Umum (Putri Mahkota Kerajaan Geger Hanjuang) diperistri oleh Pangeran Santri yang masih keturunan dari Cirebon, sehingga Kerajaan Geger Hanjuang berganti nama menjadi Kerajaan Sumedanglarang dan dibawah pengaruh kekuasaan Cirebon. (lihat Kerajaan Sumedanglarang).
Setelah selalu berperang dengan Cirebon kurang lebih selama 5 tahun, maka pada tanggal 29 Juni 1531 tercapai perdamaian antara Prabu Surawisesa dan Syarif Hidayatullah (Sultan Cirebon pertama yang juga merupakan anak Nyai Larasantang). Kedua pihak mengambil jalan terbaik dengan berdamai dan mengakui kedaulatan masing-masing. Dengan diakuinya wilayah Pajajaran yang telah direbut oleh Cirebon, berarti saat itu wilayah kekuasaan Pajajaran semakin menyempit dan otomatis telah kehilangan dua  pelabuhan utamanya yaitu Kalapa (dikuasai Banten dan Demak) dan Muara Jati (dikuasai Cirebon).
Perjanjian damai dengan Cirebon memberikan peluang kepada Surawisesa untuk mengurus dalam negerinya. Setelah berhasil memadamkan beberapa pemberontakkan, ia berkesempatan menerawang situasi dirinya dan kerajaannya. Warisan dari ayahnya hanya tinggal setengahnya, itu pun tanpa pelabuhan pantai utara yang pernah memperkaya Pajajaran dengan lautnya. Dengan dukungan sekitar 1.000 orang pasukan berani mati yang setia kepadanyalah, ia masih mampu mempertahankan daerah inti kerajaannya.
Untuk menunjukkan rasa hormat terhadap mendiang ayahnya, mungkin juga sekaligus menunjukkan penyesalannya karena ia tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pajajaran yang diamanatkan kepadanya,  pada tanggal 14 September 1533 (tepat 12 tahun setelah ayahnya wafat), ia membuat “sakakala” (tanda peringatan buat ayahnya).

Ditampilkannya di situ karya-karya besar yang telah dilakukan oleh ayahnya. Itulah Prasasti Batutulis yang diletakkannya di Kabuyutan tempat tanda kekuasaan Jayadewata /  Sri Baduga / Prabu Siliwangi yang berupa Lingga Batu ditanamkan. Penempatannya sedemikian rupa sehingga kedudukan antara anak dengan ayah amat mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahnya dengan mudah dapat diketahui (dibaca) orang. Ia sendiri tidak berani berdiri sejajar dengan si ayah. Karena itulah Batutulis itu diletakkan agak ke belakang di samping kiri Linga Batu. Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu di depan prasasti itu. Satu berisi Astatala (ukiran jejak tangan), yang lainnya berisi Padatala (ukiran jejak kaki). Pemasangan batutulis itu bertepatan  dengan  upacara  “srada”  yaitu  "penyempurnaan sukma" yang biasanya dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu, sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi.
Isi dari Prasasti Batutulis itu berbunyi (dibaca dan diterjemahkan oleh Saleh Danasasmita) :

00 wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun,
diwastu
diya wingaran prebu guru dewataprana diwastu diya
dingaran sri
baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri
sang ratu de-
wata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak anak rahyang
dewa nis-
kala sa(ng) sidamoka di gunatiga, i(n)cu rahyang
niskala wastu
ka(n)cana sa(ng) sidamokta ka nusa larang, ya siya
nu nyiyan sakaka-
la gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sang-
hyang talaga
rena mahawijaya, ya siya pun 00 i saka panca pan-
dawa (m)ban bumi 00
“semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi prabu ratu, suwargi. Ia dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana; dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Daia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat (hutan) samida, membuat telaga Rena Mahawijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu). (dibuat) dalam (tahun) Saka 1455.”

Surawisesa memerintah selama 14 tahun lamanya. Dua tahun setelah ia membuat prasasti batutulis untuk ayahnya, ia wafat dan dipusarakan di Padaren.

3.     PRABU RATU DEWATA (1535 – 1543)
Berbeda dengan ayahnya (Prabu Surawisesa) yang dikenal  sebagai  panglima  perang yang perwira, perkasa dan pemberani, Ratu Dewata terkenal sangat alim dan taat kepada agama tetapi kurang begitu mengenal seluk-beluk politik. Beliau melakukan upacara “sunatan” (adat khitan pra-Islam) dan melakukan tapa “Pwah-susu” (hanya makan buah-buahan dan minum susu).
Meskipun secara resmi perjanjian perdamaian Pajajaran - Cirebon masih berlaku. Tetapi Ratu Dewata lupa bahwa sebagai seorang raja ia harus tetap bersiaga.
Hasanudin dari Banten secara diam-diam membentuk pasukan khusus tanpa identitas resmi yang mampu bergerak cepat untuk menyerang Pajajaran. Maka terjadilah serangan mendadak ke Ibukota Pakuan, dan pihak  Pajajaran tidak menyadari bahwa musuh yang menyerang itu adalah Banten. Ratu Dewata masih beruntung karena memiliki para perwira yang pernah mendampingi ayahnya dalam 15 kali pertempuran. Sebagai veteran perang, para perwira ini masih  mampu   menghadapi   sergapan   musuh.   Disamping   itu,   ketangguhan
benteng Pakuan peninggalan Rakeyang Banga dan Jayadewata /  Prabu Siliwangi ini menyebabkan serangan kilat dari Banten tidak mampu menembus gerbang Pakuan. Penyerang tidak  berhasil  menembus  pertahanan  kota,  tetapi dua orang senopati Pajajaran gugur, yaitu Tohaan Ratu Sangiang dan Tohaan Sarendet.
Gagal merebut benteng kota, pasukan penyerbu ini dengan cepat bergerak ke utara dan menghancurkan pusat-pusat keagamaan di Sumedeng, Ciranjang dan Jayagiri yang dalam jaman Jayadewata / Prabu Siliwangi merupakan desa Kawikuan yang dilindungi oleh negara.
Sikap Prabu Ratu Dewata yang alim dan rajin bertapa, menurut norma kehidupan jaman itu tidak tepat karena seorang raja harus "memerintah dengan baik". Tapa-brata seperti yang dilakukannya itu hanya boleh dilakukan setelah turun tahta dan menempuh kehidupan (Manarajasuniya) seperti yang telah dilakukan oleh Prabu Anggalarang / Wastu Kancana.  Di zaman kekuasaan Prabu Ratu Dewata disebut juga sebagai jaman sulit (precinta) bagi Kerajaan Pajajaran.
            Prabu Ratu Dewata wafat pada tahun 1543 dan di pusarakan di Sawah Tampian Dalem.

4.     SANG RATU SAKSI SANG MANGABATAN (1543 – 1551)
Beliau merupakan anak dari Prabu Ratu Dewata. Untuk mengatasi keadaan yang ditinggalkan ayahnya  yang bertindak serba alim, sebaliknya ia bersikap keras bahkan akhirnya kejam dan lalim. Banyak rakyat dihukum mati tanpa diteliti lebih dahulu salah tidaknya. Harta benda rakyat dirampas untuk kepentingan keraton tanpa rasa malu sama sekali, ia juga sering menghina para pendeta.
Kemudian raja ini melakukan pelanggaran yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh Rahiyang Dewa Niskala, yaitu mengawini "estri larangan ti kaluaran"  atau  wanita  pengungsi  yang sudah bertunangan.  Masih ditambah lagi
dengan berbuat skandal terhadap ibu tirinya yaitu bekas para selir ayahnya. Karena itu ia diturunkan dari tahta kerajaan. Ia hanya beruntung karena waktu itu (tahun 1546), sebagian besar pasukan Hasanuddin (dari Banten) dan dibantu Cirebon sedang membantu Demak menyerbu Pasuruan dan Panarukan.
Setelah meninggal, Sang Ratu Sakti dipusarakan di Pengpelengan.

5.     PRABU RATU CARITA / NILAKENDRA (1551 – 1567)
Nilakendra naik tahta pada saat situasi kenegaraan tidak   menentu  dan   frustasi   telah  melanda  segala  lapisan masyarakat di Pajajaran. Di masa kekuasaannya, kelaparan telah berjangkit ke seluruh negeri.
Frustasi di lingkungan kerajaan lebih parah lagi. Ketegangan yang mencekam menghadapi kemungkinan serangan musuh yang datang setiap saat telah mendorong raja beserta para pembesarnya memperdalam aliran keagamaan TANTRA. Aliran ini mengutamakan mantera-mantera yang terus menerus diucapkan sampai kadang-kadang orang yang bersangkutan merasa bebas dari keadaan di sekitarnya. Seringkali, untuk mempercepat keadaan tidak sadar itu, digunakan meinuman keras yang didahului dengan pesta pora makanan enak. Cai tiningkalan nidra wisaya ning baksa-kilang (air memabukkan menjadi penyedap makan dan minum). Tatan agama gyang kewaliya mamangan sadrasa nu surup ka sangkan beunghar (tidak ada ilmu yang disukai kecuali makan lezat sesuai dengan kekayaannya). Ajaran tentang nyatu tamba ponyo, nginum twak tamba hanaang (makan sekedar pelepas lapar, minum tuak sekedar pelepas dahaga) telah ditinggalkan. Tiba saatnya kaliyuga (zaman penuh kejahatan dan kemaksiatan) yang kemudian diikuti oleh pralaya (kehancuran).
Selain itu, Nilakendra malah memperindah keraton, membangun taman dengan jalur-jalur berbatu (dibalay) mengapit gerbang larangan. Kemudian membangun "rumah keramat" (bale bobot) yang megah dengan temboknya dihias sebanyak 17 baris berupa tulisan bermacam-macam kisah dengan emas.
Mengenai musuh yang harus dihadapinya, sebagai penganut ajaran Tantra yang setia, ia membuat sebuah "bendera keramat" (ngibuda Sanghiyang Panji). Bendera inilah yang diandalkannya untuk menolak musuh. Meskipun bendera ini tak ada gunanya dalam menghadapi Laskar Banten karena mereka tidak takut karenanya.
Laskar Banten pimpinan sang putra mahkota yaitu Panembahan Yusuf berhasil menghancurkan Pajajaran dengan mudah.
Akhirnya nasib Nilakendra dikisahkan kalah perang, dan bersama pengikutnya pergi dari keraton. Sejak saat itu ibukota Pakuan telah ditinggalkan oleh raja dan dibiarkan nasibnya berada di tangan penduduk dan para prajurit yang ditinggalkan, sedangkan Nilakendra tidak diketahui wafat dan di pusarakannya.

 6.        PRABU SEDA / PRABU RAGAMULYA (1567 – 1579)
            (NU SIYA MULYA / SURYAKANCANA)
               Raja Pajajaran yang terakhir adalah Prabu Seda. Raja ini tidak berkedudukan di Pakuan, beliau telah meninggalkan Pakuan demi menghindari perang terbuka yang lebih besar dengan Banten, dan lebih memilih diam di salah satu Kerajaan daerah yang terletak di Kadu Hejo, Kecamatan Menes sekitar lereng Gunung Pulasari, Pandeglang. Wilayah ini merupakan bekas kota Rajatapura (ibukota Kerajaan Salakanagara di tahun 130).
Di lokasi baru itu, sang raja membuka tempat pemukiman baru di Cisolok dan Bayah. Entah apa yang dijadikan dasar pemikiran Prabu Seda memilih wilayah Pandeglang sebagai ibukota barunya. Mengingat Pandeglang berdampingan dengan wilayah Kesultanan Banten.
               Beliau berkuasa tanpa mahkota karena sebelum meninggalkan Pakuan, Prabu Seda sempat mengutus 4 orang Kandaga Lante (panglima) untuk menyerahkan barang-barang pusaka kerajaan Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun yang memerintah di Kerajaan Sumedanglarang. Kandaga Lante berangkat meninggalkan keraton dengan diiringi sebagian rakyat Pajajaran yang akhirnya memutuskan mengabdi kepada Prabu Geusan Ulun. Ada pun barang-barang pusaka amanat Raja Pajajaran terakhir tersebut berupa Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake Siger terbuat dari emas dan perlengkapannya (sampai sekarang masih tersimpan dengan baik di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang).
 Pada masa kekuasaan Prabu Seda inilah Kerajaan Pajajaran sebagai penerus kerajaan Sunda, mengalami keruntuhan akibat serangan Panembahan Yusuf dari Kesultanan Banten yang saat itu gencar melakukan syiar Islam, sedangkan seperti yang kita ketahui Kerajaan Pajajaran adalah menganut agama nenek moyang.
Sebenarnya secara “de jure”, kekuasaan Pajajaran telah  habis  di  masa  kekuasaan   Nilakendra.   Akan   tetapi, Pasukan Banten baru resmi “memadamkannya” setelah mereka berhasil menghancurkan Ibukota Pakuan.
Benteng kota Pakuan baru dapat dibobol setelah terjadi penghianatan dari Komandan pengawal benteng Pakuan yang merasa sakit hati karena tidak memperoleh kenaikan pangkat. Tengah malam, pasukan khusus Banten menyelinap ke dalam kota setelah pintu benteng terlebih dahulu dibukakan oleh penghianat itu. Ketangguhan benteng Pakuan yang dibuat oleh Rakeyan Banga lalu kemudian diperkokoh oleh Prabu Jayadewata / Prabu Siliwangi ternyata masih terbukti. Meskipun Pakuan telah lama ditinggalkan oleh rajanya, tetapi pasukan Banten harus berupaya keras untuk menembusnya, maka “cara halus” dianggap sebagai cara yang paling tepat untuk membobol benteng itu.
Kekalahan Pajajaran, ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (tempat duduk saat penobatan tahta) dari Pakuan ke Keraton Surasowan di Banten oleh pasukan Panembahan Yusuf. Di atas Palangka itulah biasanya raja Pajajaran diberkati (diwastu) oleh pendeta tertinggi. Tempatnya berada di Kabuyutan Kerajaan (tidak di dalam istana). Sesuai dengan tradisi, tahta itu terbuat dari batu dan digosok halus mengkilap. Batu Tahta seperti ini oleh penduduk biasanya disebut Batu Pangcalikan atau Batu Ranjang. Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu terpaksa di boyong ke Banten karena tradisi politik waktu itu mengharuskan demikian. Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki Palangka itu, maka Maulana Yusuf / Panembahan Yusuf  dianggap sebagai penerus kekuasaan Pajajaran yang syah karena buyut perempuannya (Larasantang) adalah puteri dari Prabu Jayadewata.
Ibukota Pajajaran yang bernama Pakuan akhirnya tersisih dari percanturan hidup. Pakuan sebagai pusat pemerintahan akhirnya berakhir setelah dibumihanguskan pasukan Banten, seluruh ibukota kerajaan dihancurkan dan penduduknya panik melarikan diri ke setiap penjuru. Sebagian besar, sembunyi di hutan-hutan lebat, serta gunung-gunung yang belum dijamah manusia.
Setelah berhasil menghancurkan Pakuan, pasukan Banten kemudian menuju Pulasari untuk menghancurkan ibukota baru itu. Prabu Seda dan pengikutnya yang setia mengumpulkan segenap kekuatannya melawan pasukan Banten. Tetapi, akhirnya sang raja gugur bersama seluruh pengikutnya tanpa sisa. Pajajaran “lenyap”  pada tanggal  8 Mei 1579.

Pajajaran henteu sirna, tapi tilem ngawun-ngawun,
ngan engke bakal ngadeg deui
“Pajajaran tidak sirna, tapi hanya menghilang,
dan suatu saat akan berdiri kembali”.

11 comments:

  1. Assalamualaikum Wr Wb...
    Mohon izin untuk saya share di
    https://www.facebook.com/groups/firmancahyadi007/

    terima kasih

    ReplyDelete
  2. waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh

    mangga kang, tong hilap cantumkeun link source na :)

    ReplyDelete
  3. boleh di sharae kan ....makasih banyak membantu pengkayaan khazanah sejarah dan budaya.....teruslah berkarya

    ReplyDelete
  4. Assalamu'alaikum Kang, hatur nuhun tina infona. Punten bade naroskeun, pami kerajaan Sunda di wilayah Brebes naon nya? Hatur nuhun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wa 'alaikum salam, pami ditalungtik mah kerajaan2 barat jawa nu wilayahna dugi ka Brebes teh diantawisna Tarumanagara, diteraskeun ku Kerajaan Sunda & Kerajaan Galuh, diteraskeun deui ku Pajajaran. wallahu 'alam

      Delete
  5. Prabu Siliwangi membangun Telaga MAHARENA yang sangat “AHENG”
    Letak Telaga MAHA~ARENA (Maharena) sendiri masih menjadi sebuah misteri.
    Kalau kita lihat arti kata dari MAHARENA yaitu Maha Arena atau Maha Areal atau Maha Luas.
    Telaga MAHARENA artinya yaitu TELAGA YANG MAHA LUAS.
    Berarti tidak ada telaga atau danau di Jawa Barat yang luasnya melebihi danau MAHA~ARENA.
    Mungkinkah yang dimaksud adalah DANAU BANDUNG YANG MAHA LUAS?
    Mungkinkah yang dimaksud LAWANG SAKETENG (Lorong Sempit) adalah SANGHYANG TIKORO?

    Aku tidak tahu & takut nyanyahoanan.
    Aku bertanya kepada Mandalajati Niskala, malah dijawab dgn senyuman yg penuh rahasia.

    MUNGKIN HARUS DITANYAKAN KE DR BUDHI BRAHMANTYO (GEOLOGI ITB) PENELITI DANAU BANDUNG, PASTI DIA TAHU JAWABANNYA.

    @Sandi Kaladia

    ReplyDelete
  6. aduh panjang pisan..ngiring ngunduh..tak kumaha prabu amuk marugul....

    ReplyDelete
  7. Assalamualaikum... Nuhun informasinya Kang... Kalo info nama Ki Sancang tahu gak Kang, nuhun..

    ReplyDelete
  8. Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh...

    sawangsulna, perkawis Ki Sancang kirang uninga, kumargi seputar kisah eta masih pabeulit... nu rata2 ditambihan ku cariosan nu (numutkeun simkuring) teu logis :)

    ReplyDelete
  9. teu logis na cariosan nu palih mana kang? Nuhun...

    ReplyDelete
  10. Ceritanya jauh dari kesan mistik yang melekat didiri prabu siliwangi yg menjadi kebanggan orang sunda dengan simbol maungna,,,,,,,kl menurut saya mah terlalu teoritis kesannya dipaksa ilmiah,,,beda sama cerita leluhur abdi,,,,tp terimakasih atas infonya,,,haturnuhun pisan

    ReplyDelete

kembali ke atas