• West Java Kingdom


    Kerajaan di Barat Jawa
    Penelusuran Sejarah antara Legenda dan Fakta

  • West Java Kingdom

    Search of the History between Legend and Fact

  • West Java Kingdom

    Seni, Tradisi, Budaya, dan Wisata Sejarah

Posted by Republik Anggalarang
1 comment | 4:29 PM
Bumi kita ini telah berumur kira-kira 4,5 Milyar tahun. Sedangkan mahluk yang menyerupai manusia di Jawa, kira-kira telah ada sejak 2 juta tahun yang lalu.
Kira-kira 1 juta tahun sampai dengan 600 ribu tahun yang lalu,  Pulau Jawa telah dihuni oleh mahluk yang menyerupai manusia namun sifatnya setengah hewan. Ciri-ciri  mahluk tersebut ada yang seperti kera tinggi besar dan cara berjalannya seperti hewan, kemudian ada juga jenis yang  seperti raksasa berbulu dan buas.  Biasanya mereka tinggal di hutan-hutan dan berayun-ayun dari satu pohon ke pohon yang lain. Tempat tinggalnya di atas pohon, lereng gunung atau di tepi sungai. Sifat liar itulah yang membuat diantara mereka saling memangsa melalui pertarungan tanpa senjata.
Pada 750 ribu sampai 300 ribu tahun yang lalu, muncul pula jenis mahluk yang cara berjalannya sudah tegak seperti manusia. Ciri-cirinya berkulit gelap seperti raksasa, tetapi perangainya lebih cerdas dibandingkan jenis mahluk sebelumnya. Tempat tinggal mereka di dalam gua-gua di lereng gunung. Mereka telah mengenal senjata yang dibuat dari tulang atau batu. Karena kecerdasannya, mahluk-mahluk ini akhirnya membunuh habis seluruh mahluk yang berjalan seperti hewan.
Pada 600 ribu tahun yang lalu, manusia sempurna (keturunan Adam dan Hawa) mulai berdatangan dari benua utara dan menetap di pulau Jawa. Kemudian  manusia  sempurna tersebut menyebar dan menetap di seluruh pulau Jawa. 
Di Jawa bagian barat dan  tengah,  pernah  hidup  juga yaksapurusa (manusia  raksasa)  antara  500 ribu  sampai  300 ribu  tahun  yang  lalu.  Mereka bertubuh tinggi besar, tegap, berkulit gelap dan berbulu. Perilaku dari yaksapurusa ini sangat kejam dan gemar meminum darah sesamanya, musuh, atau hewan.
Manusia sempurna kemudian memusnahkan seluruh mahluk yang berjalan tegak pada kira-kira 250 ribu tahun yang silam.
Antara 300 ribu sampai 50 ribu tahun yang lalu, mulai muncul yaksamantare (manusia setengah raksasa). Ciri-ciri fisiknya hampir sama dengan yaksapurusa namun agak kecil dan tidak terlalu berbulu serta perangainya lebih sopan dan cerdas.
Pada 50 ribu sampai 25 ribu tahun yang lampau, hidup juga warunapurusa (manusia kerdil). Mereka tidak terlalu cerdas, karena itu senjata yang dibuatnya tidak terlalu bagus. Sedangkan di Jawa bagian tengah dan timur, antara periode 40 ribu sampai 20 ribu tahun yang lalu, hidup manusia kerdil yang bertubuh besar atau disebut manusia Jawa Purba (wamanapurusageung).
Baik yaksapurusa, yaksamantare, warunapurusa, maupun wamanapurusageung akhirnya punah karena diburu oleh manusia sempurna yang datang dari benua utara.
Kemungkinan karena faktor alam (kondisi tempat dan cuaca) yang belum seimbang di belahan bumi, sehingga manusia sempurna yang berasal dari keturunan Adam dan Hawa ini akhirnya berbeda-beda ciri fisiknya disesuaikan dengan kondisi alam yang ditempatinya. Kondisi alam yang belum seimbang (pembekuan dan pencairan es di beberapa belahan bumi) terjadi hingga zaman batu madya (10 ribu sampai 4000 tahun yang silam).
Pada zaman batu madya inilah, dataran tinggi Bandung terbentuk akibat dari letusan gunung berapi. Letusan ini juga menyebabkan terbentuknya Danau Bandung (legenda Sangkuriang mengambil setting pada periode ini).
Mulai periode 8000 tahun yang lalu, gelombang manusia pendatang dari benua utara semakin banyak yang datang ke pulau Jawa. Kelompok pendatang ini memilih kepulauan-kepulauan di Nusantara dikarenakan tanahnya subur serta daerah asalnya tertimpa musibah bencana alam.
Mereka datang dengan menggunakan perahu sejenis rakit maupun perahu yang terbuat dari kayu-kayu hutan yang besar, di atas perahu tersebut didirikan semacam rumah yang atapnya terbuat dari rumput. Diantara perahu-perahu tersebut banyak yang karam di tengah perjalanan dikarenakan badai. Sedangkan yang berhasil tiba di Jawa akhirnya menyebar ke berbagai penjuru dan menetap secara berkelompok sesuai dengan rombongan asal daerahnya. Perlahan-lahan kelompok yang berlainan tersebut berbaur dan terbentuklah komunitas baru Pulau Jawa yang dihuni oleh manusia sempurna.
Dari  kelompok-kelompok manusia muncullah istilah kampung yang dipimpin oleh seorang Panghulu atau kepala kampung. Panghulu dipilih berdasarkan kewibawaan yang dimilikinya serta menguasai tentang kepercayaan yang dianut pada saat itu, sehingga panghulu bertindak pula sebagai pemuka “agama”. Kepercayaan utama yang dianut oleh penduduk yaitu kepercayaan yang memuja Hiyang (roh nenek moyang). Sementara bentuk kepercayaan lainnya yaitu pemujaan terhadap api, gunung, lautan, batu, pohon besar, kayu, darah, sungai, matahari, bulan, dan bintang. Rumah panghulu biasanya dijadikan tempat musyawarah bagi penduduknya. Rumah ini berukuran besar dan berbentuk panggung. Sementara itu busana yang dikenakan penduduk pada saat itu berupa cawat yang terbuat dari kulit kayu, kulit binatang, daun-daunan, atau rumput. Saat itu juga penduduk sudah mengenal perhiasan yang berasal dari batu dan tulang. Senjata yang digunakan yaitu tombak, gada, busur,  panah, dan senjata lainnya.  Biasanya senjata mereka digunakan untuk berburu atau bertempur dengan kelompok lain (biasanya dengan pendatang baru).
Pendatang baru (3600 tahun yang lalu) yang berasal dari daratan Asia Tenggara yaitu negeri Yawana dan Syangka, biasanya lebih cerdas dibandingkan dengan pendatang yang terdahulu. Mereka telah mengenal perkakas dari besi dan perhiasan yang terbuat dari emas, perak, manik, dan permata. Mereka juga telah menguasai berbagai macam ilmu seperti pembuatan perahu yang lebih baik, obat-obatan, pembuatan senjata sekaligus memainkannya dengan baik, menyusun aturan kampung, uang dan ekonomi, gerhana, gempa bumi, ukuran, makanan, hari, tumbuhan, musim, ilmu kelautan, ilmu hewan, ilmu tanah, ilmu gunung, ilmu hutan, tentang ucapan, ilmu rempah-rempah, dan sebagainya.
          Semakin hari, pendatang baru yang semakin cerdas menjadi berkuasa dan mempengaruhi pertumbuhan kualitas kecerdasan dari penduduk sebelumnnya. Kebiasaan berburu bergeser mencadi bercocok tanam. Perdagangan melalui barter sudah dilakukan, dan kegiatan industri seperti pembuatan senjata, perkakas rumah tangga (periuk dan sebagainya) telah dikerjakan oleh penduduk.

1 comment:

kembali ke atas