• West Java Kingdom


    Kerajaan di Barat Jawa
    Penelusuran Sejarah antara Legenda dan Fakta

  • West Java Kingdom

    Search of the History between Legend and Fact

  • West Java Kingdom

    Seni, Tradisi, Budaya, dan Wisata Sejarah

Posted by Republik Anggalarang
No comments | 4:26 PM
Pada awal abad ke-1, Pulau Jawa banyak didatangi oleh pendatang yang menggunakan perahu dari Singala (Sri Lanka), Saliwahana, dan Benggala (India). Maksud kedatangan mereka yaitu untuk berdagang dengan para penduduk asli dataran Jawa.
            Mereka menjual bahan pakaian, perhiasan (ratna, emas, perak, permata), mustika, obat-obatan, bahan makanan, dan peralatan rumah tangga. Sedangkan penduduk lokal biasanya menjual rempah-rempah, beras, dan hasil bumi lainnya kepada mereka.
            Dari sekian banyak pendatang dari negeri jauh tersebut, kemudian ada yang menetap di Jawa karena mereka merasa betah oleh keadaan alam di sini yang indah, subur dan makmur. Akhirnya mereka berbaur dengan penduduk pulau asli Jawa bahkan tak sedikit pula dari para pendatang tersebut menikah dengan penduduk asli.
            Penduduk asli Jawa yang telah mengenal ajaran kepercayaan dari nenek moyangnya, diperkenalkan ajaran agama Hindu oleh para pendatang India. Walaupun demikian, tidak semuanya yang lantas beralih kepercayaan. Perbedaan kepercayaan dan etnis tidak membuat antara mereka saling bermusuhan, mereka tetap memiliki sikap saling menghormati dan penuh perdamaian.
            Di tahun 2 sampai tahun-tahun berikutnya, pendatang semakin banyak berdatangan. Kedatangan ini disebabkan cerita positif dari para pendahulunya yang telah pernah mengunjungi wilayah Nusantara termasuk Jawa. Para pendatang tersebut bukan hanya sebatas pedagang saja, tetapi delegasi / pembesar-pembesar dari negari jauh pun banyak yang datang. Kebanyakan dari keluarga Kerajaan Calankayana dan Kerajaan Palawa dari India. Dewawarman sebagai utusan dari Kerajaan Palawa turut serta dalam rombongan pendatang.

AKI  TIREM / SANG AKI LUHUR MULYA
            Sistem “pemerintahan” yang terdapat pada penduduk lokal saat itu masih terbatas pada sistem yang dipimpin oleh “pangulu” atau  Kepala Kampung. Di barat Jawa, terdapat sebuah kampung yang dipimpin oleh Aki Tirem / Sang Aki Luhur Mulya, "predikat Aki" bisa menandakan yang bersangkutan memang sudah tua atau hanya predikat kehormatan untuk tokoh yang dituakan. Aki Tirem Aki Tirem merupakan putra dari  Ki Srengga, Ki Srengga putra Nyi Sariti, Nyi Sariti Puta Aki Bajul Pakel, Aki Bajul Pakel putra Ki Dungkul, Ki Dungkul putra Pawang Sawer, Pawang Sawer putra Datuk Pawang Marga yang asal-usulnya berasal dari negara Yawana (India Barat).
             Kampung yang dipimpin oleh Aki Tirem membawahi sebuah pusat perdagangan yang terdapat di pinggiran Kali Tirem (Tanjung Priok, Jakarta).
            Semakin hari pernikahan antara pendatang dengan penduduk asli semakin lazim, dan anak dari Kepala Kampung pun semakin banyak yang menikah dengan pendatang. Termasuk putri dari Aki Tirem yang bernama Nhay Pohaci Larasati menikah dengan Dewawarman dari Kerajaan Palawa. Jika melihat gelar "Nhay" yang digunakan oleh Pohaci Larasati, itu merupakan gelar kehormatan untuk seorang putri dari tokoh yang dihormati. Kemudian gelar ini berubah menjadi Nyay, lalu berubah lagi menjadi Nyai (Hypotetif).
            Dari ikatan pernikahan tersebut, Dewawarman menjadi turut serta dalam membantu Aki Tirem (mertuanya) menjalankan tugas sehari-hari sebagai Kepala Kampung.
            Karena pada saat itu, jalur perdagangan laut sering diganggu oleh para perompak, maka Aki Tirem bersama Dewawarman bersama-sama memberantas para perompak tersebut. Dalam sebuah pertempuran, pihak Aki Tirem dan Dewawarman berhasil mengalahkan para perompak. Sebanyak 37 orang perompak terbunuh dan 22 orang ditahan kemudian digantung mati. Sedangkan dari pihak Aki Tirem dan Dewawarman yang gugur sebanyak 7 orang.
            Pada bulan April 1930, Aki Tirem wafat,  kekuasaannya diserahkan kepada menantunya. Dewawarman sebagai seorang yang berilmu dan ksatria, telah dikenal oleh penduduk dari kampung lain. Sehingga ketika mereka tahu bahwa Dewawarman telah menjadi penguasa maka penduduk kampung lain ikut bergabung dalam kekuasaan Dewawarman. Karena kampung yang dipimpin semakin banyak bahkan meliputi hingga wilayah Pulosari (Menes, Pandeglang), maka sistem pemerintahan ditingkatkan menjadi bentuk kerajaan untuk semakin mengamankan luas wilayah serta perdagangan yang semakin ramai. Akhirnya  Dewawarman mendirikan kerajaan Salakanagara.

(Bersambung ke Bab Kerajaan Salakanagara)

0 comments:

Post a Comment

 photo backtotop_zps38af6401.png