• West Java Kingdom


    Kerajaan di Barat Jawa
    Penelusuran Sejarah antara Legenda dan Fakta

  • West Java Kingdom

    Search of the History between Legend and Fact

  • West Java Kingdom

    Seni, Tradisi, Budaya, dan Wisata Sejarah

Posted by Republik Anggalarang
4 comments | 9:14 AM
Dikisahkan, Kerajaan Banten Pasisir yang menganut agama nenek moyang tengah dipimpin oleh Prabu Pucuk Umum. Raja itu masih merupakan kerabat dengan raja Pajajaran. Suatu hari kerajaan Banten Pasisir  mendapatkan serangan dari Pasukan Islam gabungan Demak-Cirebon. Setelah bertempur sekuat tenaga, Kerajaan Banten mengalami kekalahan dan Prabu Pucuk Umum bersama kerabatnya dipersilakan oleh pimpinan Demak-Cirebon untuk mengucapkan kalimah Syahadat sebagai syarat masuk Islam. Namun rombongan dari Kerajaan Banten Pasisir ini menolak dan lebih memilih untuk  pergi.

Dikisahkan Prabu Pucuk Umum bersama pengikut setianya ini merubah wujudnya menjadi burung beo, dan terus terbang tinggi mencari tempat yang sunyi dan aman untuk menghindari masuk Islam. Saat mereka sampai di wilayah Cibaduy, mereka menemukan sebuah sungai besar yang airnya sangat jernih. Di sungai itulah sang raja bersama para pengikutnya berhenti dan mandi. Setelah selesai mandinya, maka mereka berubah kembali wujudnya menjadi manusia. Sungai ini lalu diberi nama Cibeo (nama tersebut masih berlaku sampai sekarang).
 
Setelah berubah wujud menjadi manusia, mereka masuk ke dalam hutan yang sepi. Wilayah itu berada di pedalaman wilayah Banten yang berupa hutan belantara tanpa penghuni kecuali binatang-binatang buas. Mereka kemudian memilih tempat yang berpasir indah untuk dijadikan wilayah huniannya, tempat tersebut oleh sang raja diberi nama Cikeusik. 

Setelah menetap di sana, perlahan rombongan dari Kerajaan Banten Pasisir ini mempunyai keturunan yang banyak sekali dan akhirnya mereka membuka hutan sebelah hilirnya yang diberi nama Cikertawana (nama tersebut berlaku sampai sekarang). “Kerta” artinya istirahat dan menikmati kebahagiaan, sedangkan “wana” berarti hutan.

Mulai saat itu sampai sekarang, keturunan dari Pajajaran yang dikenal dengan suku Baduy ini tetap mendiami wilayah tersebut dan tetap “mengasingkan diri” dari pengaruh luar, demi mempertahankan kelestarian budaya dan kepercayaan dari nenek moyangnya.

4 comments:

  1. itu fakta, atau hanya dongeng ?
    Ini penting untuk melacak kembali silsilah darah biru pajajaran. Dimana mereka sekarang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama sekali dongeng pencitraan, digunakan untuk menekan keyakinan lama dan menaikkan citra koalisi demak - cirebon bahwa mereka lebih unggul, bisa jadi prabu p umun tidak pernah sama sekali berperang secara fisik maupun non fisik,karena beliau dan keturunannya sangat cinta damai, untuk itu perlu d buat cerita adu ayam dsb....dongeng memang di buat oleh mereka yang berkuasa, dan itu bukan berarti kebenaran mutlak

      Delete
  2. postingan diatas adalah mitos yang didasari fakta karena itu kami memasukannya kedalam tag Legenda. Sebelum ada data otentik selanjutnya, maka kita harus pandai memilah-milah mana yang kira-kira fakta dan mana yang dianggap mitos tentunya berdasarkan referensi yang bisa diandalkan.

    Keturunan "darah biru" kerajaan-kerajaan yang ada di barat jawa hingga saat ini ada di sekitar kita, ada yang menggunakan gelar Raden, gelar2 lainnya, atau bahkan tanpa gelar.

    Terima kasih untuk peduli kepada kelestarian sejarah Sunda :)

    ReplyDelete

kembali ke atas